Pemikiran: Seni dan Kehidupan Sosial

Saya sudah sempat sharing dalam tulisan-tulisan sebelumnya, betapa bagi saya pribadi, seni merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat dan karenanya perlu juga memberikan sumbangan terhadap perbaikan kehidupan sosial.

Dalam dunia musik, selain Iwan Fals, saya juga mengagumi band Efek Rumah Kaca. Bagi saya, mereka adalah contoh pemusik Indonesia yang tak hanya baik secara musikalitas tapi memberikan angin perubahan bagi pola pikir masyarakat, minimal pendengarnya.

Pada kesempatan ini saya akan sharing beberapa bagian hasil wawancara Rolling Stone Indonesia kepada Om Yockie, yang di dalamnya menyinggung juga soal ERK dan bagaimana musisi-musisi dengan idealisme mendapatkan kesulitan berkarya di Indonesia, khususnya pada major label.

Pandangan tersebut didasari pada pemikirannya bahwa pop seharusnya mempunyai muatan yang bermanfaat bagi peradaban dan kebudayaan. Sedangkan saat ini, menurut Yockie, pop sedang ditunggangi oleh kepentingan ekonomi dan politik yang membuat aspek kulturalnya diabaikan.

Selain itu, Yockie melihat musisi-musisi era sekarang yang berupaya untuk tetap memberikan perhatian pada aspek selain ekonomi disingkirkan oleh industri. “Banyak anak-anak muda yang seperti saya maksudkan tadi. Ada Efek Rumah Kaca, ada Sore, ada macam-macam. Cuman peranan mereka disingkirkan. Dianggapnya, ‘Ngerusuhin aja nih. Bikin pusing aja!’” kata Yockie.

“Anak muda sekarang tahunya main musik pokoknya harus ada duit, terkenal, jadi selebritis. Selesai sampai di situ. Dia tidak bersentuhan dengan aspek-aspek lainnya. Dia tidak bersentuhan dengan Nazaruddin, Lapindo. Urusannya cuma ‘aku cinta padamu’, ‘aku ingin kamu’, ‘sayangilah aku’, ‘cintailah aku’, urusannya cuma sebatas itu aja,”

“Tidak harus berpolitik. Cuman peka terhadap lingkungan, apa yang terjadi di lingkungan. Efek Rumah Kaca dianggap sama industri kan, ‘Ah ini bukan pasar ini. Orang-orang nyentrik.’ Kasarnya kan begitu. Sama kayak saya jaman dulu juga sempat digituin,”

Yockie kemudian mengatakan, berkesenian adalah bagian interaksi dengan kondisi sosial masyarakat. Dan karenanya bermusik baginya merupakan pengabdian terhadap kehidupan yang dibingkai dalam sebuah karya seni. Untuk itu Yockie berpikir bahwa dalam menciptakan musik, idealnya seorang musisi tidak boleh lepas dari realitasnya. “Lepas dari realitas inilah yang dipelihara sama industri sekarang, ‘Udah, segini aja lo.’ Malah dieksploitasi habis-habisan,” tandasnya.

Saya sungguh terkesan dengan pernyataan2 Om Yockie and 100% agree with him.

What about you, fellow musician, writer, painter?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s