Simpati Terpimpin

Bukan cuma demokrasi yang terpimpin. Simpati pun bisa. Yang memimpin (dan tampak di permukaan) tentu saja media. Coba bayangkan. Jika saja serentetan tindakan keji di Paris beberapa hari lalu tak masuk breaking news CNN, BBC dan sejenisnya, tentu orang tidak akan terlalu aware tentang peristiwa itu dan besar kemungkinan profile picture banyak orang tak akan berubah menjadi seperti sekarang yang bernuansa bendera Perancis. Tentu tidak salah mengganti profile picture sebagai bentuk simpati dalam wujud paling sederhana untuk menunjukkan solidaritas kepada para korban. Apalagi, saya kok masih meyakini bahwa simpati merupakan salah satu bentuk perasaan paling tulus yang ada di dalam diri manusia yang berdosa. Ehem. Soal bagaimana ekspresinya, kembali ke pribadi masing-masing.

Hanya memang, di era Simpati Terpimpin yang makin kental saat ini, ada konsekuensi yang sulit untuk ditampik: kehadiran Simpati Terpimpin membuat simpati yang biasanya atau seharusnya atau selayaknya menyatukan, justru malah jadi pemecah belah kesatuan bangsa dan negara. Padahal NKRI harga mati! (Apa siiihhh).

Perhatikan misalnya reaksi-reaksi bersebrangan yang muncul menyikapi munculnya profile picture bendera Perancis atau hashtag #PrayForParis: “Ah, di Palestina juga tiap hari terjadi kekerasan seperti itu dan memakan banyak korban, tapi ente ga keliatan pada peduli tuh.”

Meskipun argumentasinya tak sepenuhnya benar (dan tak sepenuhnya salah), namun hal seperti ini bisa terjadi sebagai akibat dari Simpati Terpimpin. Perasaan simpati yang (menurut saya sih) harusnya universal jadi dipaksa masuk dalam kotak-kotak. Mungkin kalau berita tentang kondisi di Palestina lebih gencar dibanding berita Paris atau sesaat setelah kejadian muncul ajakan untuk menggunakan profile picture bendera Palestina, banyak orang akan segera mengikuti ajakan tersebut sebagai salah satu wujud simpati. Namun tentu saja, akan muncul reaksi tandingan:

“Ah, soal kemanusiaan bukan soal banyak atau sedikit korban. Penghilangan nyawa, entah itu sejuta, seribu, 150, 100 bahkan satu sekalipun adalah tetap kekejian.”

Atau ada juga yang nyinyir sama mereka-mereka yang terkesan hanya peduli sama orang-orang di luar negeri:

“Ah, kalian ini sibuk aja ngurusin orang di negara lain. Saudara-saudara kita di Papua masih merasakan ketidakadilan hingga sekarang. Kerabat kita di Aceh juga pernah hidup sangat sulit baik karena tsunami maupun konflik GAM – Pemerintah. Anak-anak kita kesulitan bernafas di Riau karena asap hasil pembakaran hutan. Kalian simpati ga sama mereka? Peduli ga?

(Namun untuk dua isu pertama, kalau ada ajakan ganti profile picture dengan bendera Papua atau Aceh Merdeka, hati-hati ya, jangan buru-buru ganti, nanti dalam hitungan 1 x 24 jam, Anda bisa diciduk aparat).

 

sumber foto dari akun twitter @omahekendeng

sumber foto dari akun twitter @omahekendeng dan rappler.com

 

Serangan lain juga siap menerpa:

“Ah, kalian ini pedulinya hanya sama isu-isu yang diangkat koran-koran besar saja. Saudara-saudari kita di Kendeng juga masih terus memperjuangkan haknya melawan perusahaan semen, peduli ga kalian?”

(Eh tapi buat kalian yang bukan orang asli Kendeng namun mau peduli dan simpati terhadap isu ini, siap-siap disindir sama pak Gub: “Anda orang Kendeng?”)

Lalu dibalas lagi:

“Ah, yang di Barat itu sih salah sendiri, kenapa bla bla bla… Ya wajar aja kalau ada yang marah dan balas menggigit. Ada aksi, ada reaksi.”

Lalu ada yang menyahut lagi:

“Ah, semua ini konspirasi. Konspirasi Yahudi. Kominis.”

Ah, ah, ah…

Ya begitu itu begini ini kalau perasaan simpati sudah dikuasai Simpati Terpimpin. Simpati yang semestinya lembut menjadi garang. Simpati yang umumnya muncul dengan polosnya dalam hitungan detik menjadi diskusi panjang yang mengaburkan esensi. Ah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s