Karena Kemerdekaan Itu Ialah Hak Segala Bangsa

Setiap 1 Desember, ada dua momentum yang saya tahu dan cukup saya perhatikan perkembangannya. Yang pertama adalah peringatan hari HIV dan AIDS sedunia dan yang kedua adalah perayaan hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka. 

Dalam tulisan ini saya fokus pada isu Papua merdeka. Walaupun sebenarnya, HIV dan AIDS dan Papua itu ada kaitannya. Tingginya angka prevalensi HIV dan AIDS di Papua merupakan salah satu contoh “belum merdekanya” Papua.

Tapi sekali lagi, saya sekarang hanya mau menggumuli isu Papua merdeka. Isu ini sangat sensitif. Saya paham betul soal itu. Waktu tinggal di Jayapura dulu, setiap menjelang 1 Desember suasana biasanya sudah cukup menegangkan. Aparat keamanan sudah siap mencegah dan menghalau berbagai upaya separatisme yang biasanya ditandai dengan pengibaran bendera bintang kejora.

Ada sebuah mop yang menggambarkan betapa sensitifnya aparat keamanan terhadap isu-isu “yang dicurigai sebagai bentuk perlawanan terhadap NKRI”. Begini ceritanya.

Pada suatu hari, dalam upaya perayaan hari kemerdekaan RI, anak-anak sekolah dasar dengan semangat bernyanyi:

“Enam belas Agustus tahun empat lima…”

“Stop! Stop! Apa-apaan ini? Dasar kalian semua sejak kecil juga sudah diajari menjadi separatis ya.” Seru aparat keamanan yang berjaga-jaga di sekitar lokasi upacara. 

Bapak guru coba menenangkan aparat. “Mbapa mereka coba tenang dulu kah… Biar anak-anak menyanyi sampai selesai dulu. Bisa begitu kah?”

Pimpinan aparat mengangguk, tapi muka masih ditekuk.

Anak-anak kembali bernyanyi. Dengan semangat tentu saja.

“Enam belas Agustus tahun empat limaaa… Besoknya hari kemerdekaan kitaaaa…”

😀

Wajar kalau aparat keamanan, pemerintah Pusat, orang non Papua sensitif (dan mungkin juga miris) terhadap isu Papua merdeka. Kita tidak ingin mereka merdeka dalam arti memisahkan diri dari NKRI. 
Kita cinta mereka. Bukan hanya emas mereka. Kita cinta mereka walaupun tidak kebagian saham Freeport.

Kita ingin mereka “merdeka” dari belenggu kebodohan. Kita ingin mereka punya akses pada layanan kesehatan dasar. Betul begitu kan teman-teman dan para petinggi negeri? 

Kita ingin suatu saat kita bicara tentang kita dan bukan lagi tentang kita dan mereka. Itu baru namanya merdeka.

Ditulis dalam perjalanan Jakarta-Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s