Tentang Memberikan Pilihan

Kemarin sore (2 April 2016) saya punya kesempatan menemui beberapa orang pemulung dan pengamen jalanan di salah satu sudut kota Bandung. Adalah seorang teman bernama Eloi yang baru saya kenal minggu lalu yang memfasilitasi pertemuan itu. Ia sudah belasan tahun mengabdikan hidup untuk mendampingi para pemulung.

Pertemuan berlangsung sekitar satu jam saja. Tidak ada agenda khusus. Hanya ngobrol-ngobrol sambil makan nasi bungkus. Dari antara semua pemulung dan anak jalanan yang hadir, saya sempat berinteraksi lebih lama dengan satu ibu pemulung dan seorang anak pengamen jalanan.

Sambil ngobrol, sempat terlintas di pikiran saya pernyataan seorang dosen Unair beberapa tahun silam, “Yang penting dalam upaya membantu orang miskin itu pada dasarnya adalah memberikan mereka pilihan.” Tanggapan cepat di otak saya waktu itu adalah ada benarnya juga pernyataan pak dosen ini. Terkadang orang miskin terjebak pada paham fatalistis. Dari dulu juga kehidupan saya sudah begini. Bapak ibu saya juga di hidup di jalan, kami sudah biasa. Atau, tanah di kampung kami tidak subur, kering sepanjang tahun, bisa tanam apa dengan kondisi begitu.

Atau tak perlu bicara yang terlalu pelik. Soal memilih baju yang bisa dipakai setiap hari saja tidak ada pilihan. Apalagi mau memilih lanjut kuliah di Inggris atau Amerika, tentu sama sekali tidak kepikiran. Tidak ada pilihan. Artinya juga, tidak ada harapan.

Dan menurut saya apa yang dilakukan Eloi  persis seperti perkataan pak dosen yaitu mencoba memberikan beberapa alternatif alias pilihan bagi para pemulung dan pengamen. Kepada sang adik pengamen jalanan yang kini berusia 13 tahun, Eloi menawarkan kesempatan mengikuti kejar paket A. Adik pengamen bisa saja menolak. Tapi setidaknya ia punya pilihan. Dan untungnya, adik pengamen sepakat untuk ikut kejar paket A. Dan ia bahkan mengangguk tanda setuju ketika Eloi mengatakan bahwa sang adik pengamen akan melanjutkan kejar paket B setelah selesai paket A. Siapa yang tahu jika nantinya konsekuensi dari pilihan-pilihan sederhana ini, adik pengamen bisa punya kehidupan yang lebih baik. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kamu, Mblo, kejar terus kapan jadiannya?

Lalu kepada si ibu pemulung, Eloi menawarkan program bank sampah. Nah, mari kita berhenti disini dulu karena saya tiba-tiba jadi ingat lagi perkataan si dosen Unair. Iya, masih dosen yang sama. Pak Bagong namanya. (Semoga beliau sehat-sehat adanya dan tidak ikut terjerat kasus korupsi yang sedang dihadapi mantan rektor). Jadi Pak Bagong, pada lain kesempatan bilang begini, “Kalau buat program kewirausahaan untuk orang miskin, cari sektor yang tidak mungkin atau kecil kemungkinan disentuh oleh orang kaya.” Pesan yang sederhana sekali. Tapi terkadang bukankah kita suka melupakan hal-hal sederhana meskipun sangat mendasar.

Kembali ke Eloi dan program bank sampahnya. Ini contoh program kewirausahaan yang kecil kemungkinan akan dilirik orang kaya. Meskipun saya tahu ini juga bisnis besar. Namun secara umum, bermain sampah bukan opsi prioritas para konglomerat. Intinya, ada peluang lah bagi mereka yang berada di kelas ekonomi rendah untuk mendapatkan uang lebih banyak disini. Jadi, ini merupakan pilihan baru bagi para pemulung, termasuk si ibu. Dan bersyukur, si ibu pemulung bersedia ikut program bank sampah. Tabungannya sudah lumayan katanya. Ia optimis bisa buka usaha kecil-kecilan setelah lebaran nanti. Ia sudah lelah berada di jalan. Usia semakin bertambah, tenaga terus berkurang.

Saya tidak tahu apakah Eloi sepenuhnya sadar bahwa apa yang sedang dilakukannya senada dengan pemikiran seorang dosen yang asumsinya kenyang dengan berbagai teori. Saya tidak tahu dan tidak merasa perlu tahu. Kenapa? Karena justru disitulah saya menemukan hal penting lainnya dalam kaitan dengan pendampingan bagi mereka yang miskin. Apa itu? Bahwa menangani kemiskinan itu harus bersama-sama. Ada yang baca buku dan menawarkan konsep, ada yang turun langsung ke lapangan, ada yang mengelola keuangan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (bukan malah ditilep) dan sebagainya. Dosen, pemerintah, volunteer, tokoh agama semua punya peran dan seharusnya menjalankan peran dengan sebaik mungkin. Lah, bagaimana dengan saya yang hanya seorang penulis amatir? Apa peran saya? Paling tidak saya sudah membagikan kisah ini dengan Anda. Memberi pilihan bacaan supaya tidak itu itu saja yang Anda baca. Dan jika Anda berkenan membantu program pendampingan yang dilakukan Eloi, saya bisa membantu menghubungkan Anda kepadanya.

Kira-kira jam 18.15 WIB pertemuan kita akhiri. Tidak lupa berfoto-ria dulu sambil mengacungkan jempol dan berujar, “Bandung juara. Hidup Persib :)”

Saya melangkahkan kaki ke tepi jalan raya dan tak lama setelah itu supir pribadi saya lewat. Angkot maksudnya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s