Selebritis, Kehidupan Sosial dan Kita

Siang tadi (24/5), saya iseng-iseng berselancar di twitter melihat berbagai informasi yang berseliweran di linimasa. Ada beberapa twit yang saya RT sebelum akhirnya saya berhenti untuk mendalami sebuah cuitan yang menarik perhatian dari aidol saya, mbak Emma Watson. Jadi si mbak yang satu ini membagikan sebuah tautan berita yang berjudul Women’s Equality Party Launches New Campaign to Tackle Revenge Porn and Protect Women Online. Panjang nian judulnya ya. Saya pun perlahan tapi pasti membaca kalimat demi kalimat pada berita tersebut. Intinya ya sebagaimana digambarkan dalam judul, menceritakan sebuah upaya kampanye untuk melindungi perempuan di dunia maya.

Saya tidak heran jika mbak nan cantik jelita ini membagikan tautan semacam itu. Sudah sejak lama mbak Emma menaruh perhatian terhadap isu kesetaraan jender dan hak-hak perempuan secara umum. Pada tanggal 20 September 2014 silam, ia berkesempatan menyampaikan pidato tentang gender equality di acara kumpul-kumpul sidang United Nations. Di dalam pidatonya, mbak Emma mengajak kaum pria untuk turut juga peduli terhadap isu-isu yang dihadapi kaum perempuan.

Setidaknya sejak saat itu sampai sekarang saya melihat konsistensi “perjuangan” mbak Emma untuk para perempuan yang haknya masih ditindas di berbagai tempat. Artinya ini bukan sesuatu yang ia lakukan untuk memperkuat pencitraan semata-mata. Bukan pula karena ia didapuk menjadi UN Women Goodwill Ambassador. Namun karena memang ia merasakan ada permasalahan terkait hak-hak perempuan yang belum selesai dan ia ingin mengambil bagian dalam upaya mengatasi isu tersebut. Karena kalau cuma “pesan sponsor” tak mungkin bisa terus berkoar-koar tentang isu yang sama selama bertahun-tahun. Pasti itu datang dari dalam hati. Bukan begitu, mbak Emma?

Kalau melihat selebritis yang seperti mbak Emma ini, pikiran saya langsung tertuju kepada Thom Yorke. Vokalis Radiohead ini pernah dinobatkan sebagai salah satu rocker peduli lingkungan oleh Rolling Stone sekitar tahun 2010 silam. Ia (bersama Radiohead tentu saja) mengambil beberapa langkah praktis untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap isu lingkungan. Misalnya, bis dan truk yang mereka gunakan berbahan bakar biofuel serta tata lampu dan penggunaan listrik selama pertunjukkan diupayakan seefisien mungkin. Mereka juga membeli dua set peralatan konser yang disimpan di Amerika dan Eropa untuk mengurangi pengiriman peralatan dengan menggunakan pesawat. Bahkan mereka pernah menolak tampil di Glastonbury karena ada isu terkait lingkungan hidup yang tidak bisa dicari jalan tengah penyelesaiannya bersama pihak panitia penyelenggara.

Yang menarik adalah melihat komentar para fans tentang kepedulian Thom Yorke terhadap isu lingkungan. Seperti biasa, ada yang pro, ada yang kontra. Mereka yang kontra umumnya menganggap bahwa Thom Yorke sebaiknya fokus saja untuk menghasilkan musik yang bagus dan berkualitas, tidak perlu mengurusi terlalu banyak soal lingkungan hidup atau politik.

Namun tak sedikit pula yang mendukung kepedulian Thom terhadap isu lingkungan hidup. Salah seorang penggemar menulis seperti ini, “Thom Yorke is not just a musician, he’s also a human, fortunately happens to care more then you. How can you separate his works and his value, his works is in his value, his value is in his works.”

Wah, dalam sekali pernyataan fans yang satu ini. Dan di akhir pernyataan sikapnya, ia mengutip sebuah kalimat dari seorang musisi Jazz bernama Herbie Hancock, “Music is what I do, being a human is who I am.” Wah, kalimat penutup yang makjleb sekali.

Di Indonesia sendiri ada beberapa selebritis yang terang-terangan menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan tertentu. Ada yang cemas dengan reklamasi. Ada juga yang peduli terhadap lingkungan hidup seperti Nadine Chandrawinata dan sebagainya. Meskipun menurut om Yockie Suryo Prayogo (pemain keyboard God Bless) dalam sebuah wawancara tahun 2011 dengan Rolling Stone Indonesia mengungkapkan bahwa budaya pop masa kini mengalami kemunduran jika dibandingkan dengan era ‘70an atau ‘80an. Argumentasi blio didasarkan pada kondisi bahwa budaya pop masa kini sedang ditunggangi kepentingan ekonomi semata-mata dan mengabaikan aspek kulturalnya.

Yogie berkata, “Anak muda sekarang tahunya main musik pokoknya harus ada duit, terkenal, jadi selebritis. Selesai sampai di situ. Dia tidak bersentuhan dengan aspek-aspek lainnya. Dia tidak bersentuhan dengan Nazaruddin, Lapindo. Urusannya cuma ‘aku cinta padamu’, ‘aku ingin kamu’, ‘sayangilah aku’, ‘cintailah aku’, urusannya cuma sebatas itu aja. Tidak harus berpolitik. Cuman peka terhadap lingkungan, apa yang terjadi di lingkungan. Efek Rumah Kaca dianggap sama industri kan, ‘Ah ini bukan pasar ini. Orang-orang nyentrik.’”

Ketika menulis artikel ini, saya sendiri tidak sedang berharap bahwa semua selebritis harus punya kepedulian sosial. Atau kalau pun punya kepedulian harus selalu ditunjukkan di depan publik. Tidak, tidak seperti itu. Lagipula siapa sih saya berani-beraninya kasih saran untuk para selebritis. Saya hanya sedang membagikan kekaguman saya terhadap para selebritis yang tak sekadar peduli terhadap peningkatan pundi-pundi keuangannya namun menaruh perhatian dan memiliki aksi yang nyata untuk kemanusiaan. Karena menurut saya menunjukkan keberpihakan terhadap isu sosial, politik dan budaya bagi public figure itu cukup beresiko terhadap perkembangan karier mereka. Namun kalau mereka berani bersuara dan beraksi untuk perbaikan kondisi lingkungan dimana mereka berada, menurut saya hal itu layak diapresiasi.

Dan pada saat yang bersamaan, sebenarnya kepedulian terhadap sesama bukan hanya dibebankan kepada para musisi. Siapapun dan apapun pekerjaan kita, berupaya membuat kehidupan bersama yang lebih baik adalah peran semua orang. Mengutip ulang pernyataan Herbie, “Music is what I do, being a human is who I am.” Kalau kata pertama: music kita hapus dan digantikan dengan apapun profesi kita, semoga kata-kata selanjutnya bisa tetap sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s