Sambil Menunggu Wiji Thukul Muncul

Tak sulit mencari orang pintar di negeri ini. Buang saja waktu sekitar sepuluh menit berselancar di media sosial, niscaya kau akan segera menemui perang argumentasi di berbagai penjuru dunia maya. Kutipan buku, ayat, pendapat para filsuf dan ahli agama berhamburan tak tertahan. Itu hanya satu pertanda sederhana banyaknya orang pintar di antara para netizen.

Tak sulit mencari orang pintar di negeri ini. Mulai dari yang benar-benar pintar, sok pintar, pura-pura pintar, pintar korupsi semua ada.

kudongkel keluar
orang-orang pintar
dari dalam kepalaku

aku tak tergetar lagi
oleh mulut-mulut orang pintar
yang bersemangat ketika berbicara

dunia bergerak bukan karena omongan

para pembicara dalam ruang seminar
yang ucapannya dimuat
di halaman surat kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
setelah surat kabar itu dilipat (Mendongkel Orang-Orang Pintar)

Mungkin yang lebih sulit adalah mencari orang yang memiliki kedalaman. Kedalaman pemahaman, kedalaman perasaan, kedalaman pengalaman, kedalaman penghayatan. Tentang hidup. Atau tentang apa pun yang menjadi passion seseorang.

Wiji Thukul bisa jadi salah satu contoh orang yang hidup dengan kedalaman. Puisi-puisinya, terserah dari sudut mana mau dibedah, adalah buah dari pohon dengan akar yang begitu dalam menerobos tanah. Puisi-puisinya jelas bukan puisi paling cantik yang bisa dihasilkan oleh seorang penyair. Tapi orang akan sulit menampik kenyataan bahwa puisi-puisi Thukul memiliki kedalaman.

Tak semua orang suka pada kedalaman. Karena kedalaman mudah menginspirasi yang lain. Menular. Apalagi kalau kedalaman dicampur dengan keberanian. Tentu tidak baik untuk stabilitas.

Wani,
bapakmu harus pergi
kalau teman-temanmu tanya
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
”karena bapakku orang berani” (Wani, Bapakmu harus pergi)

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan)

Maka dari itu Wiji Thukul harus dihilangkan. Mungkin juga dimatikan. Tak ada yang tahu pasti. Well, mungkin ada yang tahu tapi tentu tak akan memberi tahu.

Sambil menunggu Wiji Thukul muncul, bersiaplah menonton film tentang kisah hidupnya yang berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Sayangnya, film ini belum bisa dinikmati di Indonesia, tanah air Thukul. Justru di Swiss, dalam ajang Locarno International Film Festival yang dimulai 3 Agustus mendatang, film ini akan tayang untuk pertama kalinya.

Semoga tak lama setelahnya, masyarakat Indonesia khususnya generasi muda bisa mendalami Thukul melalui film. Ini penting karena kalau pun Wiji Thukul tak lagi muncul, wiji (biji) lain akan thukul (tumbuh).

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun–tirani harus tumbang! (Bunga dan Tembok)

wiji

Bagi yang berminat membaca karya-karya puisi Wiji Thukul, sila klik di sini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s