Tak Perlu Melihat ke Bawah untuk Bersyukur

Hidup tak semudah omongan Mario Teguh. Begitu kira-kira petuah yang bisa Anda temukan di dunia maya. Dan petuah tersebut benar adanya. Namun faktanya motivator tetap dicari dan ditunggu oleh banyak orang. Sebuah kontradiksi yang unik. Meskipun kalau mau diperhatikan lebih jauh sebenarnya bukan hal yang luar biasa juga. Karena hidup semakin hari semakin berat. Sebagian orang butuh untuk dibius oleh kata-kata yang menghembuskan harapan. Terlepas dari apakah dorongan semangat itu bertahan lama dan berbuah menjadi aksi nyata atau layu sebelum berkembang, bukan masalah.

Saya sendiri tidak banyak mengikuti ocehan para motivator. Namun ada satu pembicara yang cukup sering saya perhatikan kalimat-kalimat bijaknya. Dia adalah Nick Vujicic. Buat yang belum tahu beliau, silakan googling sendiri. Hari  gini malu googling, sesat di jalan!

Blio posting sebuah kalimat singkat yang menohok beberapa hari lalu. 


Bagaimana menohok ga? Kalau kalian baru diputusin pacar dan kembali menjadi jomblo, dijamin kalian akan menangis tersedu-sedu membaca kalimat pelipur lara dari Mas Nick. 

Oke, kembali ke alur artikel!

Membaca postingan Mas Nick, sempat terlintas di benak saya salah satu kemungkinan reaksi orang terhadap hal tersebut: “Tuh lihat, orang cacat saja bisa bersyukur di tengah kelemahannya, masak kamu ga bisa mblo?”

Cukup sering saya mendengar saran untuk mengucap syukur dengan cara membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain yang dianggap lebih susah atau tidak beruntung. Seperti Mas Nick.

Tapi setelah saya pikir perlahan-lahan, tenang-tenang, sebetulnya tidak perlu dan kurang tepat juga mengucap syukur dengan cara melihat ke bawah.

Pertama, karena belum tentu sepenuhnya kondisi kita lebih baik dari orang yang kita pandang lebih rendah itu. Kedua, melihat ke bawah itu bisa membuat kita justru terbuai dan akhirnya tidak maju-maju. 

Dalam hal ini saya ambil contoh dari dunia sepak bola. Sebutlah misalnya petinggi Arsenal bilang gini, “Duh bersyukur ya kita ga kayak Liverpool yang udah puluhan tahun ga juara Liga Inggris. Apalagi Tottenham tuh, tetangga kita yang mandek terus prestasinya.”

Kalau pikiran begini terus dipelihara bisa jadi Arsenal sudah puas kalau posisinya di atas Tottenham. Tapi ini hanya contoh loh ya.

Dan alasan ketiga, bisa saja pada suatu masa kita berada di posisi paling buncit. Lah, terus kita jadi ga bisa bersyukur gitu?

Rasa syukur itu kudu muncul dengan melihat ke atas. Melihat kebesaran yang Maha Kuasa. Merasakan kebaikan Sang Pencipta. Karena Tuhan itu baik untuk selama-selamanya.

Hidup memang tidak pernah semudah omongan motivator. Namun bukan berarti kita tidak bisa menjalani hidup tanpa penuh ucapan syukur. 

Have a great day!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s