Ketika Ahok Begitu Bising, Kami pun Bersandar di Pundak Dian Sastro

Apa yang terjadi jika seorang memutar lagu yang sama dengan volume maksimal dan diputar berulang-ulang sepanjang hari? Bisa jadi, walau lagunya bagus, tetap saja membosankan. Kalau pun tidak bosan, pendengaran orang itu akan (sedikit) terganggu, entah sementara atau selamanya.

‘Sisi baiknya’ tentu saja ketika ada tetangga yang merasa terganggu, lalu marah, dan menggedor-gedor pintu rumah. Si pemilik rumah yang kupingnya sudah pekak, alih-alih sadar sedang diomeli malah menjawab, “Oh termos es, ada, tunggu sebentar ya bu saya ambilkan.” #IfYouKnowWhatIMean

Entahlah dengan kalian, tapi saya sudah merasa bengap dengan ‘lagu-lagu’ tentang Ahok, yang dikemas dalam bingkai pemberitaan, tayangan video, ataupun informasi lain yang selalu ada dan berlipat ganda. Buka Facebook, ada banyak status dan tautan berita tentang Ahok. Mantau Twitter, Ahok berulang kali jadi trending topic dan salah satu bahan baku paling menarik untuk twitwar.

Lalu, saya baca pesan di WhatsApp. Isinya masih seputar ajakan untuk mengumpulkan KTP sebagai bentuk dukungan kepada Ahok. Beli koran, wajah Ahok sering terpampang di salah satu sudut halaman depan. Lihat Instagram, penuh dengan foto selfie di depan booth Teman Ahok di mal. Mau lari ke Friendster, lupa password.

Mereka yang cinta Ahok menyuguhkan ‘lagu-lagu’ manis tentang Ahok. Sebaliknya para pembenci menampilkan ‘lagu’ dengan nada-nada minor. D – A minor – E minor – G. Begitu terus sampai chorus. Kadang, walau liriknya benar, tapi sebetulnya nggak nyambung. Misalnya, “Saya Muslim, Saya Dukung Ahok”. Mungkin sebentar lagi akan muncul tandingannya, “Saya Kristen, Saya Tidak Dukung Ahok”.

Hebatnya ‘lagu-lagu’ tentang Ahok mampu bertahan di jajaran top forty dari waktu ke waktu. Setidaknya sejak 2012 sampai sekarang, pemberitaan tentang Ahok tak henti-hentinya tersaji di hadapan publik. Dan, semakin dekat dengan pelaksanaan Pilkada DKI pada 2017, tentu akan lebih terasa hingar bingar.

Apalagi, para pesaingnya juga punya potensi untuk menambah kebisingan. Yusril Ihza Mahendra, yang seorang profesor dan mantan menteri, mulai merambah para pencinta Mickey Mouse yang unyu-unyu. Sedangkan Ahmad Dhani tampil dengan mulut besarnya. Beruntung Ridwan Kamil mundur dari bursa calon gubernur DKI. Setidaknya para jomblo di Jakarta tak turut menambah keramaian secara berlebihan.

Tentu semua kebisingan ini dipengaruhi juga oleh media massa. Mereka kan hobinya mengarahkan mengatur apa yang layak dan tidak layak diperbincangkan khalayak ramai. Nah, karena kabar tentang Ahok termasuk topik yang laku terus di pasaran, media pun selalu memberi porsi bagi pemberitaan tentang Ahok.

Walaupun sudah digoyang oleh ‘lagu’ bertema Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT), bisnis anak presiden yang jualan martabak, papa minta saham, hingga mencuatnya Leicester City di puncak klasemen Liga Inggris, ring tone dari ‘lagu-lagu’ bertemakan Ahok tetap laris manis.

Apalagi, kalau saingannya cuma ‘lagu-lagu’ dengan tema matinya Salim Kancil, perjuangan ibu-ibu di Rembang menolak keberadaan perusahaan semen, dan kekerasan terhadap anak. Tema-tema seperti itu tentu hanya bisa masuk daftar top ten di radio-radio indie saja.

Tentunya yang berlaku hukum pasar. Ada permintaan, ada penawaran. Yang request ‘lagu-lagu’ Ahok memang banyak. Para pecinta dan pembenci Ahok berlomba-lomba meminta ‘lagu’ Ahok diputar terus menerus.

Tak heran dengan banyaknya permintaan seperti itu, para pencipta ‘lagu’ jadi semakin semangat berkarya. Politisi, sejarawan, wartawan, filsuf, analis, hingga netizen berlomba-lomba membuat ‘lagu’ tentang Ahok. Temanya bermacam-macam, mulai dari maju secara independen atau lewat parpol, urusan kabel, ‘perang’ dengan Haji Lulung, sampai tentu saja topik yang paling laku di negeri ini, apalagi kalau bukan urusan agama. Agama kok diperdebatkan terus, kapan diamalkan?

Selain faktor-faktor di atas, bertahannya ‘lagu-lagu’ Ahok di papan atas tentu dipengaruhi oleh Ahok sendiri. Sosok Ahok memang banyak menunjukkan gebrakan, baik lewat kata maupun perbuatan. Ketegasannya bak pedang yang selalu membawa pembedaan yang jelas antara para pecinta dan pembenci Ahok. Sudah tentu tokoh seperti ini sayang jika dilewatkan begitu saja oleh siapapun yang berkepentingan.

Entahlah dengan kalian, tapi saya sudah pekak dengan semua kebisingan yang diciptakan dan ada di sekitar Ahok. Sebagai rakyat jelata, saya tidak bisa berbuat banyak. Mau membredel media massa yang menulis berita tentang Ahok jelas tak punya kuasa. Mau menutup akun Instagram nanti nggak bisa promosi obat jerawat dan pemutih kulit.

Jadi satu-satunya harapan untuk mengalahkan tingginya desibel vokal soal Ahok, saya letakkan di pundak Dian Sastro. Ya, mbak Dian adalah bagian dari sebuah karya yang mampu menyadarkan publik tentang perlunya musik alternatif agar hidup tak sekadar Ahok Lagi Ahok Lagi.

‘Lagu-lagu’ tentang mbak Dian itu bersifat universal. Tidak perlu dikotak-kotakkan ke dalam genre tertentu, namun tetap banyak yang menyukai. ‘Lagu-lagu’ soal mbak Dian juga sudah terbukti tak lekang dimakan waktu. Ketika Ahok belum ribut dan diributkan pada 14 tahun silam, mbak Dian sudah begitu fenomenal.

Film ‘Ada Apa Dengan Cinta (AADC)’ yang dibintangi mbak Dian telah membekas di hati pecinta dan pembenci Ahok, yang ketika itu sebagian di antaranya mungkin sedang saling jatuh cinta. Dan, jika pada 2002, mereka pernah bersama-sama menonton AADC di bioskop atau layar tancap terdekat, kini para pecinta dan pembenci Ahok akan kembali bergandengan tangan untuk menyaksikan AADC 2. Love is in the air!

Dan, hebatnya lagi, meskipun AADC begitu warbyasa, mbak Dian tetap kalem. Ketimbang bikin heboh di media massa dan media sosial, mbak Dian lebih memilih untuk berkarya dalam ketenangan, serta rajin berolah raga dengan tagline #JanganKasihKendor dan #PertemananSehat. Panutan!

Akhir kata, mbak Dian, dengan segala hormat, pecahkan saja gelasnya biar ramai agar kebisingan yang dibuat oleh para pecinta dan pembenci Ahok tidak bikin kami pekak apalagi cekak. Kami bersandar di pundakmu, mbak Dian…

 

Tulisan ini pertama kali muncul di Voxpop tanggal 16 Maret 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s