Tetap Ahok, Tetap Drama

Saat menuliskan artikel ini, saya sedang berada di Alor, Nusa Tenggara Timur. Sepanjang dua hari berada di pulau indah ini, belum sekali pun ada yang mengajak saya berbincang-bincang tentang politik nasional. Padahal sejumlah orang dengan berbagai profesi sudah saya temui. Mulai dari tokoh agama, pegawai pemerintahan, supir, nelayan dan anggota masyarakat lainnya. Tak satu pun dari mereka yang mengajukan topik seputar reshuffle kabinet atau majunya Ahok dalam pilkada DKI lewat jalur partai politik dalam agenda perbincangan kami.

Kita bicara hal-hal seru dan kontesktual saja seperti lokasi diving yang indah, penjualan hasil komoditas pertanian, curah hujan rendah yang dikhawatirkan menyebabkan gagal panen dan sejenisnya. Mungkin topik reshuffle dan Ahok tidak dirasa punya pengaruh langsung buat kehidupan keseharian masyarakat di sini.

Saya sendiri menikmati keheningan dari keriuhan politik di pulau Jawa untuk sementara waktu. Namun sayangnya, berkat kecanggihan teknologi dan keberadaan sinyal internet di pelosok negeri termasuk di Alor, saya toh tak bisa lepas dari percakapan seputar situasi politik nasional. Sejumlah teman ramai memberikan update dan berdiskusi lewat grup WA. Begitu mampir sejenak ke facebook dan twitter, keramaian obrolan seputar reshuffle kabinet dan Ahok semakin tak terbendung.

Sebagai netizen yang baik, akhirnya saya pun meluangkan waktu untuk memantau perkembangan politik di ibu kota negara. Dan dibandingkan soal reshuffle yang isinya dipenuhi oleh kembalinya sejumlah mantan menteri, saya lebih tertarik mengikuti perkembangan berita seputar majunya Ahok dalam pilkada 2017 melalui jalur partai politik.

Tagar #TetapAhok langsung meroket ke puncak trending topic. Seperti biasa, kedua kubu yang selalu berseberangan tentang Ahok saling mengadu opini tentang keputusan Ahok tersebut. Yang penting maju pilkada (dan kemudian menang), soal cara tidak masalah. Begitu salah satu opini yang paling sering saya lihat dicuitkan oleh para pendukung Ahok. Hasil akhir adalah segalanya. Tapi apa iya, soal cara tidak masalah?

Bagi saya, kesimpulan tidak bisa diambil sesederhana dan secepat itu. Meskipun Ahok berulang kali mengatakan bahwa parpol pendukungnya (sementara ini terdiri dari Golkar, Nasdem, Hanura) tidak mengajukan persyaratan politik seperti mahar atau dana kampanye, tapi apa iya kalian bisa langsung percaya begitu saja? Ini politik, kawan. Semuanya berputar pada soal kepentingan rakyat partai politik.

Tapi kan sudah terbukti kalau pun nanti parpol-parpol ini mulai minta yang aneh-aneh, Ahok bisa meninggalkan mereka. Gerindra sudah merasakannya beberapa waktu lalu. Ahok punya prinsip kuat dan pemberani. Lah kalau memang sedemikian pemberaninya, mengapa tidak sekalian lewat jalur independen? Sejuta lebih orang sudah menyatakan dukungan lewat pengumpulan KTP. Dan besar kemungkinan seiring berjalannya waktu, jumlah tersebut akan terus bertambah.

Karena lewat jalur independen sebenarnya peluang terciptanya sejarah sudah di depan mata. Bayangkan betapa luar biasanya jika kemenangan seorang gubernur ibu kota RI diraih lewat jalur independen. Berkat dukungan rakyat yang dimobilisasi oleh rakyat juga. Dan kalau mau lebih spesifik, dimotori oleh anak-anak muda. Ini sudah tentu akan menjadi kemenangan historik dan penting untuk kemajuan demokrasi kita.

Koh Ahok akan lebih leluasa untuk mengutamakan kepentingan rakyat dalam kepemimpinannya. Bukan kah itu menjadi mimpi yang lebih besar daripada sekadar berhasil menjadi gubernur? Dan kalau pun kalah, perjuangan teman Ahok akan tetap tercatat dalam buku sejarah demokrasi Indonesia sebagai salah satu upaya perjuangan rakyat yang kuat dan cerdas di era modern. Ini juga menghembuskan harapan bagi mereka yang selama ini sudah terlanjur antipati kepada partai politik dan memilih menjadi golput.

Sayang seribu sayang, dunia ini adalah panggung sandiwara. Dan arena politik merupakan panggung drama yang sesungguh-sungguhnya. Politisi bikin janji hari ini, besok pura-pura lupa. Partai politik dan kandidat gubernur tahun lalu berseberangan, sekarang berpegangan tangan.

Kalau mau jujur, saya kecewa dengan pilihan Ahok maju lewat jalur parpol. Saya tidak akan coblos beliau di pilkada nanti. Soal ini sebenarnya tidak ada kaitan dengan jalur independen atau parpol, semata-mata karena KTP saya memang bukan KTP Jakarta. Ahok mungkin masih jadi kandidat paling baik dibanding sejumlah kandidat yang ada, namun sayang ia melewatkan begitu saja kesempatan maju lewat dukungan luar biasa dari rakyat.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah, misalnya dengan mencontek atau belajar yang rajin. Banyak cara untuk menjadi kaya, bisa dengan korupsi, jual narkoba atau berwirausaha. Mencapai tujuan memang penting, tapi cara mencapai tujuan tak kalah penting. Bukan begitu koh Ahok? Masak iya Ahok yang selama ini berkoar-koar soal integritas, tidak memilih jalan yang lebih baik?

Tapi keputusan sudah diambil. Selamat berjuang koh Ahok. Buat teman Ahok, selamat melanjutkan dukungannya. Sementara bagi saya, hal ini hanyalah menambah deretan bukti kalau politik itu panggung sandiwara yang sejati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s