Catatan Anak Bola untuk Ultras Sinetron Anak Jalanan dan Piala Eropa

Piala Eropa 2016 segera memasuki babak gugur-guguran. Enam belas tim sudah memastikan tiket ke perdelapan final, termasuk Inggris, yang penampilannya kali ini lebih tegang daripada nonton film horor sekelas Conjuring 2. Tentunya, dalam beberapa hari ke depan, setiap pertandingan bakal lebih memacu detak jantung ultras sepak bola, lebih cepat dibanding ultras sinetron Anak Jalanan memacu motor-motor sport mereka yang masih nyicil itu.

Beberapa pertandingan bahkan langsung menyajikan laga epik “Clash of Titans”, semisal Spanyol kontra Italia. Tapi, sebelum mulut kita gagal mingkem menyaksikan betapa dramatisnya Piala Eropa atau Euro 2016 daripada sinetron Anak Jalanan, mari selow sejenak menyimak catatan ringan ini.

Selama babak penyisihan turnamen sepak bola akbar di ‘Benua Biru’ tersebut, sesungguhnya tidak ada pelajaran yang baru-baru amat bagi masyarakat Indonesia. Meski begitu, saya tetap malas menonton sinetron wabil khusus Anak Jalanan, yang katanya tetap menjadi program dengan rating tertinggi, jauh di atas Piala Eropa.

Saya tak punya pledoi atau teori untuk membela para pencinta tayangan sepak bola. Tidak seperti Arif Utama yang begitu apik membela ultras sinetron Anak Jalanan dalam artikelnya di Voxpop berjudul “Dear Anak Bola, Jangan Main-main dengan Ultras Sinetron Anak Jalanan.”

Alasan personal saya cuma satu, karena sinetron tidak pernah mampu membuat bulu saya berdiri atau meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Tidak ada emosi yang bisa memikat hati. Beda dengan sepak bola, emosi penonton sedemikian cetar. Menembus batas negara, bangsa, dan tentunya lintas agama.

Balik lagi soal Piala Eropa, yang selama babak penyisihan tidak memberikan pelajaran yang baru bagi penikmat sepak bola di Tanah Air. Kenapa begitu? Mari kita simak:

Perjuangan sampai titik darah penghabisan

Seorang legenda sepak bola Jerman, Sepp Herberger pernah berkata, “Der ball ist rund(bola itu bundar).” Segala sesuatu bisa terjadi selama 90 menit. Sebelum peluit panjang dibunyikan, hasil pertandingan masih bisa berubah. Sebuah tim bisa saja meraih kemenangan pada menit-menit akhir, karena lawannya kehilangan konsentrasi di penghujung laga. Maka dari itu, harus bersiap menerima kekalahan atau setidaknya hasil imbang.

Hal seperti itu lumayan sering terjadi pada Piala Eropa tahun ini. Sampai pekan lalu, dari 47 gol yang tercipta, sebanyak 13 di antaranya terjadi setelah menit ke-85. Dramatis! Mungkin itu kata yang tepat. Kegigihan menggempur pertahanan lawan dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Jelas ini bukan barang baru di sepak bola maupun dunia politik di Indonesia. Pilpresnya sudah lewat bertahun-tahun, nyinyirnya masih terbawa sampai sekarang. Pilkadanya masih tahun depan, jual beli serangan sudah terjadi jauh sebelumnya. Daya tahan untuk saling menyerang di dunia politik negeri ini memang layak diacungi jari jempol.

Beri kesempatan pada generasi muda

Hal lain yang menarik dari Piala Eropa atau Euro 2016 adalah lumayan banyaknya pemain muda yang diberi kesempatan membela tim nasional masing-masing. Inggris dan Jerman menjadi dua tim dengan rata-rata usia pemain termuda. Dan, para pemain muda ini juga tidak sekadar duduk manis di bangku cadangan. Banyak dari mereka yang sudah mendapat kesempatan bermain dan mengundang decak kagum, seperti Kingsley Coman (Prancis), Emre Mor (Turki), Renato Sanches (Portugal), dan Joshua Kimmich (Jerman).

Di Indonesia sendiri kebiasaan menjadikan generasi muda sebagai ujung tombak suatu gerakan bukan hal baru. Duta Pancasila dan Duta Anti-Narkoba di Medan adalah generasi muda, meskipun proses pemilihannya kontroversial. Namun setidaknya itu bukti bahwa negeri ini masih memberi kesempatan bagi generasi muda untuk menularkan virus positif kepada anak-anak muda lainnya. Semoga ke depan bisa lebih banyak anak muda yang menjadi duta karena prestasi, bukan sensasi.

Merayakan perbedaan

Perbedaan itu sebuah keniscayaan. Daripada meributkan itu, mengapa tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif? Begitu mungkin pikiran para petinggi sepak bola di Jerman dan Prancis. Dua tim kuat ini meramu pemain-pemain multikultur di dalam skuatnya.

Tim Jerman menggemakan slogan “Jeder fuer Jeden” atau masing-masing untuk semua. Tidak peduli dari ras mana nenek moyang para pemain. Mereka semua adalah pemain tim nasional Jerman dan siap saling menopang untuk kejayaan negara mereka.

Sepintas mirip dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Indah bukan? Walaupun praktiknya susah. Masih ada kelompok yang merasa paling berhak mengkavling tanah surga, sampai bisa-bisanya mengkafirkan pemeluk agama yang berbeda.

Berkelahi itu tidak baik (twitwar sedikit lebih baik)

Salah satu aib sepanjang pagelaran Piala Eropa 2016 adalah perkelahian antar suporter, khususnya Rusia dan Inggris. Sebelum pertandingan dimulai, fans kedua negara sudah saling bentrok. Dan, yang lebih gila, baku pukul juga terjadi di dalam stadion, sesaat setelah pertandingan usai.

Sejumlah orang menderita luka cukup serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit. UEFA sampai mengancam akan mendiskualifikasi kedua negara dari turnamen, jika para pendukung mereka bikin onar lagi.

Perkelahian memang tidak baik dan tidak perlu. Bangsa Indonesia paham betul soal ini dan enggan untuk berkelahi secara fisik, tapi lebih memilih berkelahi di media sosial aliastwitwar. Ya mungkin ini cara gelut yang “lebih santun dan tidak melukai”. Yang terjadi justru makin tenar dan lumayan nambah followers.

Masih menyangkut soal perkelahian, Presiden Rusia Vladimir Putin malah menjadikan itu sebagai guyonan. Blio merasa heran, bagaimana 150 orang pendukung timnas Rusia dapat “mengalahkan” ribuan fans Inggris? Wah, perilaku seperti itu beda sekali dengan para politisi di negeri ini. Kalau di terjadi perkelahian antar suporter di Indonesia, alih-alih menertawakan, mereka langsung sigap cari panggung dan mendadak ahli. “Ini pasti karena miras!”

Ya begitulah sedikit catatan pinggir dari pernak-pernik Piala Eropa khususnya selama fase penyisihan grup. Sayangnya, tidak ada pelajaran yang baru-baru amat buat masyarakat kita. Hanya (lagi-lagi) kode keras buat persepakbolaan di Tanah Air bahwa sudah sepatutnya kita tak lagi memakai formalin agar kemuraman prestasi nggak awet begini, keleus…

 

pertama kali tayang di voxpop.id tanggal 24 Juni 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s