Dari Twitter ke Petisi, Gerakan Sosial sambil Ngopi-ngopi Cantik?

Rosa Parks bukan orang kulit hitam pertama yang menentang perlakuan rasis dari kaum kulit putih di Amerika Serikat. Sebelum dia, sejumlah nama seperti Bayard Rustin, Irene Morgan, Sarah Louise Keys, dan beberapa orang lainnya juga pernah melakukan perlawanan terhadap orang kulit putih.

Namun, tindakan Rosa Parks yang menolak ketika diminta disuruh pindah duduk ke belakang bus yang akhirnya mampu memicu gerakan sosial lebih besar dalam melawan diskriminasi rasial orang-orang kulit putih. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Dalam bukunya ‘The Power of Habit’, Charles Duhigg memaparkan beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya pergerakan sosial yang besar. Pertama, sebuah gerakan biasanya dimulai dari kekuatan pengaruh pertemanan di antara beberapa orang atau kelompok.

Lalu gerakan akan semakin berkembang dengan adanya dukungan dari hubungan dengan kelompok-kelompok lain yang lebih luas. Dan, pada akhirnya, gerakan sosial akan menjadi semakin besar dan bertahan, ketika muncul rasa memiliki dari sebuah komunitas terhadap gerakan yang mereka jalankan.

Dan, menurut Duhigg, apa yang terjadi pada gerakan sosial yang dipicu oleh Rosa Parks memenuhi tiga unsur tersebut. Rosa Parks merupakan seorang perempuan yang aktif pada banyak kegiatan baik di tengah komunitas, organisasi, maupun gereja. Hal ini membuat penahanannya oleh polisi pada 1 Desember 1955 akibat membangkang di dalam bus memicu protes teman-temannya dari berbagai organisasi. Mereka membuat aksi protes dalam bentuk konkret, yaitu memboikot bus di kota mereka, Montgomery.

Penyebaran informasi aksi tersebut meluas begitu cepat dan membuat orang-orang yang tak kenal Rosa Parks sekalipun akhirnya turut ambil bagian, karena pengaruh dari teman atau kerabat mereka. Hingga akhirnya, gerakan ini dipimpin oleh Martin Luther King Jr dan terus berkembang dari waktu ke waktu dalam memerangi diskriminasi rasial yang begitu kental di Amerika.

Lalu, bagaimana dengan gerakan sosial di era teknologi informasi seperti sekarang?

Secara umum, sepertinya tidak jauh berbeda dengan konsep yang dipaparkan Charles Duhigg dalam bukunya. Tentu, Rosa Parks kekinian adalah para selebtwit yang punya banyak teman dan pengikut. Sekali ngetwit, walau mungkin isinya terkesan tidak penting sama sekali bahkan terkadang garing, ratusan bahkan ribuan orang bisa me-retweet. Hebatnya lagi, selebtwit itu tak selamanya manusia. Bahkan sebuah sponge bernama Sponge Bob pengikutnya bisa mencapai 1,7 juta akun. Lah, kamu berapa pengikutnya, mblo?

Nah, bayangkan kalau selebtwit sudah bersabda, bakal banyak yang memberikan dukungan. Misalnya, ketika para pesohor melakoni #IceBucketChallenge sebagai bagian dari pengumpulan dana dan penyebaran informasi tentang penyakit ALS, netizen pun turut mendukung sepenuh hati.

Atau, kalau kalian masih ingat, pada 2012 pernah ada ajakan dari para selebritis untuk #StopKony. Nama-nama beken seperti Oprah Winfrey, Rihanna, Alyssa Milano, sampai idola remaja kekinian, dik Justin Bieber, juga ikut menyuarakan dengan lantang #StopKony.

Joseph Kony adalah pemimpin Lord’s Resistance Army (LRA), yang melakukan pembunuhan massal, pencurian ribuan anak, dan berbagai kekejian lain di Nigeria. Namun, hingga kini, tidak ada kabar yang pasti apakah gerakan tersebut sudah berhasil menghentikan kekejaman Kony atau belum.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa gerakan sosial yang meledak, karena dukungan media sosial. Misalnya, satu juta facebooker dukung Bibit-Chandra, koin untuk Prita, atau yang rada kekinian seperti Bali tolak reklamasi. Selain melalui media sosial, satu metode gerakan lainnya pada masa kini adalah melalui petisi.

Hampir tiap hari selalu muncul ajakan untuk menandatangani sebuah petisi. Tapi pertanyaannya, benarkah gerakan sosial melalui media sosial tak memiliki perbedaan yang nyata dengan gerakan yang biasa dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya?

Menurut saya, salah satu perbedaan utamanya adalah soal rasa kepemilikan terhadap permasalahan yang sedang disuarakan. Rosa Parks dan masyarakat kulit hitam di Amerika tahu persis rasanya didiskriminasi oleh ras kulit putih. Sedangkan masyarakat yang mendukung perbaikan kehidupan di Papua misalnya, belum tentu benar-benar mengerti perasaan atau kegundahan yang dihadapi masyarakat di sana.

Betul bahwa mereka memiliki awareness terhadap sesuatu yang tidak berjalan baik, misalnya dalam hal pelanggaran HAM atau minimnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan dasar. Dan, betul juga bahwa netizen bersimpati terhadap sesamanya di Papua, tapi kemungkinan besar tak lebih dari itu.

Lagipula apa sulitnya me-retweet atau menandatangani petisi sambil ngopi-ngopi cantik di sebuah kedai kopi yang nyaman, bukan? Namanya juga lagi ngopi-ngopi cantik, begitu ada topik lain yang lebih seru, (pura-pura) lupa sama sebelumnya. Itu kenapa gerakan sosial melalui media sosial punya tendensi untuk tidak bertahan lama.

Misalnya, belum lama ini netizen menaruh perhatian terhadap upaya Leonardo DiCaprio untuk menyelamatkan ekosistem di Taman Nasional Gunung Leuser dari gempuran ekspansi perkebunan kelapa sawit. Boleh percaya boleh tidak, paling sebentar lagi berlalu. Tentu saja saya tidak akan membuat nazar aneh-aneh seperti gantung saya di Monas atau lompat dari Monas dan sejenisnya untuk mendramatisir pernyataan saya tersebut.

Satu tambahan lain mengenai beda gerakan sosial melalui dan tanpa media sosial saya kutip dari Malcolm Gladwell. Ia mengatakan bahwa gerakan melalui media sosial tidak memiliki struktur dan karakter dari organisasi pergerakan. Media sosial menang telak dalam hal membangun networks, namun gerakan sosial tak bisa dilakukan hanya dengannetworks semata-mata.

Ia harus tumbuh dalam sebuah organisasi, karena tanpanya sulit untuk membicarakan strategi gerakan serta membuat keputusan-keputusan di lapangan. Intinya, media sosial hanya bisa menolong sampai pada tahap tertentu saja, yaitu tahap pembangunan kesadaran dan penyebaran informasi. Lebih dari itu, tetap perlu pelaku-pelaku di lapangan.

Tapi tahu apa Gladwell tentang kehebatan gerakan media sosial di Indonesia? Bukan begitu, kawan-kawan? Abaikan saja dan mari kembali fokus ke jempol kita untuk me-like, me-retweet, dan menandatangani petisi. Tentunya sambil ngopi-ngopi cantik…

 

pertama kali tayang di voxpop.id tanggal 8 April 2016.

Advertisements

One thought on “Dari Twitter ke Petisi, Gerakan Sosial sambil Ngopi-ngopi Cantik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s