Politik, Hukum, Sepak Bola. Siapa Jadi Panglima?

Bumi berputar pada porosnya. Sebagian masyarakat Indonesia berkutat pada politik dan hukum. Entah siapa yang jadi panglima, kadang keduanya punya hubungan gelap. Entah kebetulan atau sebuah konspirasi ala imperium Romawi. Yang pasti, tiap hari kita terus dijejali.

Beruntung bagi para pencinta sepak bola, selalu ada pertandingan yang bisa dinikmati setiap pekan. Ya, sepak bola menjadi alternatif tayangan yang selalu menarik untuk disimak di tengah berbagai isu politik dan hukum, yang sudah mengepung kita mulai dari sayap kiri, kanan, tengah, depan, sampai garis pertahanan. Butuh mental baja ala Bayern Munchen untuk menjaga kita agar tetap waras.

Saat ini, seluruh mata penggemar sepak bola tertuju pada Liga Champions dan Liga Europa. Tidak semua sih, fans Manchester United fokusnya ke Piala FA. Beda kasta. Dalam laga terakhir babak perempat final Liga Champions, baru-baru ini, semua pertandingan berlangsung ketat seperti rok mini dengan tatapan maksi. Seluruhnya berakhir dengan hasil agregat 3-2. Untuk pertama kali dalam sejarah terjadi hasil seperti ini.

Tak heran, jika fans yang klubnya berhasil lolos begitu menikmati indahnya tawa kebahagiaan. Sedangkan yang kalah langsung masuk gua dan menonaktifkan semua akun media sosial setidaknya selama sepekan untuk menghindari cemoohan. Mereka juga pura-pura mendadak sariawan demi menghindari percakapan soal hasil pertandingan.

Di Liga Europa, yang paling seru adalah pertandingan Liverpool kontra Dortmund. Setelah babak pertama sempat tertinggal 0-2 dari tim tamu, Liverpool akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan lolos dengan skor agregat 5-4. Fans di Stadion Anfield melonjak kegirangan termasuk para penggemar yang menyaksikan pertandingan di area belakang gawang sambil duduk di kursi roda.

Sebentar lagi, laga semifinal bakal digelar. Di Liga Champions, Manchester City bertemu Real Madrid dan Atletico Madrid bersua Bayern München. Seluruh pertandingan dijamin berlangsung seru, karena seluruh tim tentu ingin mendapatkan tiket ke final yang akan digelar di Milan, Mei mendatang. Fans pun harus kembali siap begadang demi menyaksikan pertandingan-pertandingan tersebut.

Meskipun hanya jadi suporter layar kaca, tapi loyalitas dan militansi fans klub Eropa di Indonesia itu tanpa batas. Kalau hanya harus bangun jam 2 atau 3 dini hari demi nonton sebuah pertandingan sepak bola, no big deal lah walaupun konsekuensinya ngantuk di sekolah, kampus, atau kantor.

Memiliki loyalitas tinggi memang menjadi salah satu karakter sekelompok penggemar sepak bola di Indonesia. Begitu jatuh cinta kepada sebuah klub dari ‘Benua Biru’ tak mungkin berpaling lagi ke klub lain. Meskipun klub yang didukung sudah lama tak meraih gelar juara, mereka tetap loyal. Sebut saja fans Liverpool.

Mungkin ada di antara mereka yang sepanjang kariernya sebagai fans belum pernah melihat Liverpool menjadi kampiun kompetisi sepak bola Inggris. Atau, fans Arsenal yang sudah bertahun-tahun juga puasa gelar Liga Premier Inggris. Walaupun begitu, mereka tetap setia. Beruntunglah yang punya pasangan seorang fans Liverpool atau Arsenal. Dijamin setia. Apapun yang terjadi. Apapun. Itu setia apa sudah mentok?

Tapi terkadang loyalitas bisa menggiring suporter layar kaca pada fanatisme destruktif. Bukan sekali dua kali terjadi kasus perkelahian antar suporter klub Eropa pada acara nonton bareng. Mungkin orang Eropa tersenyum melihat kejadian seperti ini sambil berujar, “Kok bisa segitunya ya?” Sama seperti kita juga akan garuk-garuk kepala, kalau misalnya ada orang bule tawuran ketika menonton Persib lawan Persija.

Mungkin kalau dalam konteks yang katanya demokrasi, mereka ini seperti para pendukung fanatik sebuah partai politik. Dari pemilu ke pemilu yang dicoblos partai itu melulu. Tak peduli akhirnya kalah atau menang. Sudah terlanjur cocok dengan ideologi yang dijual partainya. Sedangkan partai yang lain dianggap salah terus. Mereka ini punya kecenderungan terlibat perang di media sosial.

Namun, tak semua kelompok suporter layar kaca di Indonesia seloyal itu. Ada juga kelompok yang diberi gelar “glory hunter” alias pemburu trofi. Jadi tiap musim, bisa jadi klub yang dibelanya berganti-ganti. Tahun lalu penggemar Chelsea, tahun ini sudah menobatkan diri menjadi pendukung Leicester City.

Kalau dalam dunia perpolitikan, mereka ini ibarat para politisi yang haus jabatan dan kekuasaan. Macam si Ruhut, raja minyak dari Medan. Sekali waktu ia mengecat rambutnya berwarna kuning, namun beberapa tahun kemudian sudah pakai jaket biru sambil memuji-muji betapa indahnya lagu-lagu Pak Beye. Sekarang dicat merah, tapi setengah. Tetap Pak Beye, tapi ngaku Jokowi lovers.

Jenis kelompok suporter layar kaca lainnya adalah kaum minoritas. Mereka mendukung klub-klub semenjana atau memilih menonton liga yang tak populer seperti BayernligaBundesliga. Bagi mereka, kebahagiaan adalah kalau timnya tidak terdegradasi. Mereka tidak bermimpi muluk-muluk klubnya juara Liga Champions.

Ada juga kelompok suporter lainnya. Yaitu mereka yang menjadikan sepak bola sebagai ajang mengikuti kuis berhadiah. Pokoknya setiap ada kuis tebak skor berhadiah pulsa ataujersey, mereka dipastikan berpartisipasi. Tentu tidak ada salahnya memiliki perilaku bersenang-senang seperti ini layaknya para peserta kampanye parpol yang sekadar meramaikan suasana demi mendapatkan nasi bungkus dan tontonan dangdut dengan goyangan yang bikin ngilu. Yang lebih parah dari pemburu hadiah adalah mereka yang menjadikan sepak bola sebagai lahan perjudian. Mereka rentan digerebek front pembela ini-itu.

Selain itu masih ada satu lagi tipikal suporter layar kaca, yaitu para komentator. Mereka ini gemar sekali mengomentari jalannya pertandingan dan performa para pemain. Umumnya sih memberi kritik, padahal kalau dirinya sendiri main bola, belum lima menit juga udah megap-megap kehabisan nafas. Memang enak memberikan penilaian tanpa harus bertanggung jawab langsung seperti para komentator kebijakan pemerintah di televisi.

Mungkin karena pengaruh dunia politik yang penuh intrik, para suporter tipe komentator ini juga senang memaparkan berbagai teori konspirasi dalam dunia persepakbolaan. Mereka menuding UEFA selalu berupaya mempertemukan Barcelona dan Real Madrid di final Liga Champions. UEFA juga konon kabarnya selalu menguntungkan Barcelona. Pokoknya semua potensi konspirasi mereka tahu. Warbyasak mereka ini. Layak direkrut jadi anggota BIN.

Namun, apapun jenis suporter layar kaca di negeri ini dengan tabiatnya masing-masing, sesungguhnya mereka itu diperhatikan sama klub-klub Eropa sana. Sungguh saya tidak main-main. Suporter layar kaca di Indonesia, apalagi jika digabung dengan suporter lainnya dari seluruh Asia Raya, adalah komponen penting bagi (kemajuan) klub sepak bola Eropa. Alasan pertama tentu saja karena jumlahnya yang besar. Dan, yang kedua adalah karena keterikatan (engagement) yang tinggi dengan klub yang dibela.

Klub-klub serta pengelola Liga Eropa menjadikan Asia sebagai target penetrasi pasar, karena begitu potensial dan menggoda. Berbagai upaya dilakukan agar bisa membuatfans jatuh hati. Mereka aktif menyapa fans melalui media sosial, misalnya pada hari-hari besar keagamaan dan kemerdekaan Indonesia. Ada juga yang sampai membuat akun media sosial atau website khusus berbahasa Indonesia.

Gayung pun bersambut. Selain banyak yang menjadi followers, para suporter layar kaca Indonesia juga dikenal aktif pada hari pertandingan berlangsung khususnya Liga Inggris. Bahkan saking aktifnya, pendukung asal Indonesia tercatat nomor tiga tertinggi, hanya kalah dari United Kingdom dan Prancis. Bukan hanya di media sosial, rating tayangan sepak bola di Indonesia juga termasuk tinggi.

Meskipun masih kalah dari sinetron yang tayang saat prime time, tentu ini berkontribusi terhadap pemasukan finansial klub dari hak siar pertandingan. Bundesliga sampai menggaet Fox Sports demi memperluas jangkauan tayangan ke Amerika dan Asia untuk beberapa tahun ke depan.

Dan hebatnya lagi, misalnya pun tak disiarkan langsung di televisi, tak sedikit fans yang bersedia merogoh kocek untuk membeli pulsa agar bisa menonton via live streaming. Padahal menonton melalui cara ini kadang tak berjalan mulus. Suka ngadat-ngadat. Yang bikin kesal, kalau macetnya pas klub kesayangan mau bikin gol. Atau sebaliknya, ketika jaringan sudah lancar kembali, ternyata klub jagoan sudah tertinggal 1-0.

Meski tak banyak, fans di Indonesia juga berkontribusi melalui pembelian original jerseyklub. Meskipun harganya ratusan ribu rupiah, mereka rela mengoleksi setiap jersey yang dikeluarkan klub. Padahal hampir setiap tahun, klub merilis 3 jersey baru untuk pertandingan home, away, dan pertandingan di level Eropa.

Saya punya beberapa teman yang sudah mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk membeli jersey, termasuk jersey klasik.Tapi sekali lagi, jumlah mereka tak terlalu banyak. Masih jauh lebih banyak yang membeli jersey KW buatan Tiongkok atau Thailand. Tak masalah, yang penting mereka bisa menunjukkan identitas sebagai penggemar sebuah klub.

Dari sisi jumlah anggota fans club, Indonesia juga termasuk tinggi angkanya. Keberadaannya juga tersebar di berbagai wilayah. Jika saja suatu saat mereka mau mendirikan parpol, fondasi sudah berdiri dengan cukup kokoh.

Melihat antusiasme seperti itu, tidak heran jika klub-klub Eropa setiap libur kompetisi selalu bergantian menyempatkan diri mengunjungi Asia, termasuk Indonesia, untuk menggelar beberapa laga uji coba. Dan tak jarang, para pemain klub Eropa dibuat kagum oleh aksi penonton Indonesia di stadion. Selain atribut yang lengkap mulai dari jersey, syal, bendera hingga spanduk, mereka juga terdengar begitu fasih dan semangat melagukan chants dalam Bahasa Inggris, Italia, atau Jerman. Walaupun kalau ditanya artinya, belum tentu mengerti.

Ya begitulah hebatnya suporter layar kaca di Indonesia dalam mendukung klub-klub Eropa. Apalagi di tengah vakumnya kompetisi nasional, mereka jadi lebih gencar lagi menyaksikan sepak bola Eropa. Tak ada salahnya sambil menunggu Piala Satpol PP liga sepak bola nasional digelar. Salam olah raga!

 

pertama kali tayang di voxpop.id tanggal 26 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s