Kita Butuh Olimpiade Setiap Minggu

Saya menuliskan artikel ini tanggal 18 Agustus 2016. Kurang lebih 24 jam setelah kemenangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir a.k.a Owi dan Butet di ajang final bulu tangkis ganda campuran Olimpiade Rio 2016. Gemuruh sukacita atas kemenangan tersebut masih sangat terasa. Ya, siapa yang tak bangga dengan raihan medali emas di hari kemerdekaan RI yang ke-71.

Bagi sebagian orang, kemenangan Owi dan Butet ibarat simbol “perlawanan” terhadap derasnya isu pertentangan SARA dan jender yang dipelihara oleh sekelompok orang di negeri ini. Belum terlalu lama terjadi keributan terkait isu SARA di beberapa tempat seperti di Tanjung Balai dan Yogyakarta. Sesama orang Indonesia berkelahi gara-gara urusan SARA.

Kontras dengan yang ditunjukkan Owi dan Butet. Mereka berhasil menjadi pemenang berkat padu-padan suku, agama dan ras yang dibungkus dalam kesatuan tanah air, Indonesia.

Indah sekali. Saking indahnya, ada perasaan ngeri kalau hal ini bakal cepat berlalu. Belum lagi kesadaran akan pentingnya kebhinekaan masuk ke rumah-rumah warga, bisa-bisa trending topic sudah kembali ke urusan saling ejek antar ras dan kelompok. Dan sesekali dihiasi gosip tentang roman picisan para selebritis.

Perkiraan saya paling lama satu minggu saja suasana guyub ini terpelihara. Bisa jadi lebih cepat kalau ada berita pemantik keramaian SARA muncul tiba-tiba. Misalnya kalau PDI-P mengumumkan calon gubernur DKI jagoannya. Entah itu Ahok, Risma atau siapa pun, niscaya kabar baik tentang pentingnya persatuan antar berbagai suku, agama dan ras yang diusung Owi dan Butet akan segera digoncang.

Apalagi, pada dasarnya kita ini bangsa pelupa dan mudah terpecah konsentrasinya. Sebentar ramai bahas persoalan HAM, besoknya sudah lupa. Semangat bicara tentang kasus korupsi sambil ngopi-ngopi, lusa sudah tidak ingat. Sudah dasarnya pelupa, ada pula sejumlah pemain yang entah disadari atau tidak kehadirannya, sibuk memainkan isu SARA di tengah publik. Sayang seribu sayang masyarakat sering termakan isu-isu si provokator. Gampang sekali terpancing untuk saling serang dan berantem di medsos. Hebatnya, kalau udah saling serang soal SARA, daya tahan (sebagian) orang Indonesia itu luar biasa tangguh.

Dan kalau sudah melihat linimasa penuh dengan perang SARA, disitu kadang saya berharap Olimpiade digelar setiap minggu dan Indonesia selalu mendapatkan medali emas. Kadang yang juara si kulit cokelat, kadang si mata sipit, kadang si rambut kribo. Terserah, yang penting di belakang kaosnya tertulis dengan gagah berani: I N D O N E S I A.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s