Bocah-bocah Suriah, Perang, Mati Rasa dan Secercah Harapan

Perang itu bisa jadi salah satu bukti bahwa manusia masih primitif. Hawa nafsu untuk menguasai bangsa/orang lain nyatanya masih mendominasi keputusan manusia. Yang beda hanya alat perangnya saja. Kalau dulu masih pakai pedang, bambu runcing, panah atau pistol jadul. Sekarang sudah pakai nuklir, tank, pesawat tempur, senjata laser, dan alat-alat pembunuh canggih lainnya.

Namun nyatanya, semodern apa pun senjatanya, tujuannya tetap sama, untuk membunuh. Malah dengan segala kecanggihannya, alat-alat perang mutakhir justru sebenarnya lebih dungu sekaligus menjadi bukti para penggunanya pengecut. Ia tidak bisa lagi membedakan mana yang mau dijadikan target. Main hantam sekenanya saja. Para penguasa di balik kekacauan perang mungkin tersenyum karena “musuh” banyak yang mati.

Tapi perkenankan saya bertanya, siapa itu musuh, tuan puan yang rakus? Bocah-bocah di Aleppo itu juga musuh? Kalau bukan, kenapa kalian hujani dengan bom?

sumber: twitter @rafsanchez

sumber: twitter @rafsanchez

 

Siapa itu musuh, tuan puan yang bodoh? Anak lima tahun bernama Omran Daqneesh?

sumber: CNN

sumber: CNN

 

Siapa itu musuh, hei orang-orang dewasa yang mengira diri mereka pemberani? Alan Kurdi, bocah tiga tahun yang tewas tenggelam di tepi pantai Turki karena harus ikut ayahnya melarikan diri dari tanah airnya?

sumber: HA Hellyer

sumber: HA Hellyer

 

Salah satu kengerian zaman sekarang adalah makin sulit meyakini bahwa pengharapan akan sesuatu yang lebih baik itu masih ada. Perang di mana-mana. Korupsi di sana-sini. Narkoba di mana-mana. Di mana-mana kejahatan (sepertinya) merajalela. Ketika foto Alan tersebar luas di media pada September 2015 silam, muncul harapan agar para jagoan pengecut menghentikan perang. Tapi mereka sudah terlanjur mati rasa. Hawa nafsu mereka sudah lebih besar, jauh lebih besar daripada rasa kemanusiaan yang dititipkan di hati mereka.

Perang toh terus berlanjut dengan dalih banyak agenda penting yang harus diselesaikan. Atas nama negara, atas nama agama, demi kekayaan atau apa pun juga. Ini untuk kebaikan umat manusia juga pada akhirnya. Begitu mungkin manusia primitif menambahkan argumentasi mereka.

Tapi manusia-manusia primitif itu perlu tahu, pengharapan tak pernah padam. Dan anak-anak adalah simbol pengharapan. Omran dan teman-temannya di Suriah beserta anak-anak lainnya di berbagai belahan dunia adalah harapan. Dan saya kok yakin, masih banyak orang-orang dewasa yang dengan senang hati menemani perjalanan mereka bertumbuh menjadi manusia-manusia yang baik. Termasuk Anda yang berkenan membaca tulisan ini. Betul kan?

 

Cepat sembuh, Omran!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s