Menilik Hubungan Panggilan Akrab Presiden dan Keakrabannya dengan Rakyat

Tak terasa 17 Agustus sudah datang lagi. Kali ini ia menjadi penanda 71 tahun perjalanan kita sebagai bangsa yang merdeka. Dalam segala jatuh bangun yang dihadapi, layaklah kita tetap bersyukur sebagai bangsa. Kita bersyukur karena di tengah serangan kaum intoleran yang membabi-buta, NKRI masih bisa dipertahankan. Negara juga masih bisa dibilang penuh kedamaian. Perang hanya terjadi di Twitter. Dan meskipun korupsi masih terjadi dimana-mana, pembangunan terus bergulir dan membawa dampak bagi (semoga) sebanyak-banyaknya rakyat.

Semua ini, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, tentu dipengaruhi oleh kepemimpinan para presiden. Dan yang menarik, masing-masing presiden memiliki keunikan serta pendekatan tersendiri dalam memandang kepemimpinan dan cara mereka membangun relasi dengan rakyat. Setidaknya hal ini bisa terlihat dari cara mereka biasa disapa oleh masyarakat. Berikut beberapa contohnya.

Bung Karno

Soekarno menjadi presiden pada zaman revolusi kemerdekaan. Menurut Achmad Notosoetardjo, Soekarno lah yang mula-mula mempopulerkan sebutan ‘bung’ sebagai panggilan untuk mereka yang revolusioner dan bercita-cita melenyapkan imperialisme-kolonialisme, kapitalisme serta bercita-citakan Indonesia merdeka. Wah, kalau ada orang ngomong semacam ini di era sekarang, besar kemungkinan sudah dicap sebagai kominis dan digeruduk massa.

Maaf, maaf, pembaca. Saya sedikit kehilangan fokus.

Parakitri Simbolon dalam Menjadi Indonesia menyebutkan bahwa Soekarno mulai memperkenalkan panggilan ‘bung’ ketika terbentuknya Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada Desember 1927.

Memang kalau dipikir-pikir sapaan ‘bung’ begitu pas dengan kondisi saat itu. Ia merupakan simbol perlawanan terhadap penjajah. Coba bayangkan mengganti lirik “Mari Bung rebut kembali” dengan “Mari Cyin rebut kembali”. Tentu massa tak akan terbakar semangatnya untuk berjuang mengusir penjajah.

Dan dengan memilih dipanggil sebagai Bung Karno, presiden pertama Indonesia ini menjadi personifikasi revolusi itu sendiri. Sapaan ‘bung’ membuatnya bukan sekadar terasa dekat dengan rakyat, lebih dari itu ia adalah bagian dari rakyat.

Sedikit berkhayal, dengan sebutan bung, rasanya juga cocok dalam strategi politik luar negeri kala itu. Bung itu revolusioner tapi juga elegan. Ia diterima di Eropa Timur tapi juga menerobos masuk ke kalangan sosialita Hollywood. Terbayang gagahnya Soekarno ketika berjabatan tangan dengan Marilyn Monroe dan berujar, “Soekarno. Bung Karno.” Sama kerennya dengan detektif Inggris, “Bond. James Bond.”

Bapak Soeharto

Perlu diingat bahwa Soeharto, setidaknya menurut dirinya sendiri, mengambil alih kepemimpinan nasional pada masa-masa chaos. Oleh karenanya, sebagai pemimpin negara, ia memosisikan diri sebagai penjaga ketertiban dan konduktor stabilisasi di berbagai bidang. Ditambah lagi dengan latar belakangnya dari militer, layaklah jika ia dipanggil dengan istilah Bapak.

Dalam konteks kepemimpinan Pak Harto, sebutan Bapak terasa membuat jarak dengan masyarakat namun pada saat yang bersamaan ia memainkan peran sebagai pengayom masyarakat. Ia harus dihormati tetapi ia juga punya perencanaan yang jelas untuk pembangunan masyarakat. Ia mengelola sebuah kontradiksi dengan baik. Sayang ketika itu belum ada aturan presiden hanya boleh memimpin dua periode. Alhasil, ia terjebak memanfaatkan kekuasaannya secara berlebihan.

Toh begitu, sejumlah masyarakat yang sempat merasakan nikmatnya stabilisasi dan pembangunan di era Bapak Pembangunan tersebut kini sering rindu ingin kembali ke era Orde Baru. “Piye Le, enak jamanku tho?”

Gus Dur

Seandainya kalian lagi ada waktu senggang, cobalah tanya kepada orang-orang di sekitarmu, “Siapa Presiden RI ke-4?” Kemungkinan, mayoritas akan menjawab Gus Dur, bukan nama asli sang presiden, Abdurrahman Wahid. Entahlah, tapi menurut saya panggilan Gus Dur merepresentasikan kedekatan yang lebih cair antara presiden dan rakyat. Tembok-tembok pemisah yang dibangun kokoh selama 32 tahun oleh Presiden Soeharto dihancurkan begitu cepat oleh Gus Dur.

Kejenakaannya juga mewakili selera humor rakyat Indonesia yang sekarang mulai hilang dan berganti dengan selera marah-marah. Tapi sayangnya, sejumlah petinggi baik di legislatif maupun eksekutif tak suka dengan kebijakan-kebijakan Gus Dur. Mereka memakzulkan presiden yang mereka pilih sendiri beberapa tahun sebelumnya.

Mbak Mega – Bu Mega

Panggilan Mbak dan kemudian lebih sering Ibu menggambarkan sebuah relasi kedekatan yang kuat antara Megawati dan rakyat khususnya para pendukungnya. Saya masih ingat betul betapa ramainya massa pendukung Mbak Mega di sekitar Bundaran HI saat proses pemungutan suara untuk memilih presiden di Gedung MPR RI. Magnet Mbak Mega menguat setelah terjadi upaya penggeseran dirinya dari tampuk pimpinan PDI pada tahun 1996. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Mungkin juga orang terhipnotis setiap kali ia memulai pidato dengan memekikkan, “Merdeka! Merdeka!”

Pak Beye – SBY

Kesan pertama saya tentang Pak Susilo Bambang Yudhoyono adalah pandai mengambil hati (sebagian) rakyat Indonesia. Popularitasnya meroket cepat dalam waktu singkat. Dan dengan modal itu, ia berhasil menjadi presiden Indonesia pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Penggunaan panggilan SBY juga hal lain yang menarik dari sang presiden. Bagi kaum muda, ini mungkin semacam simbol kekinian. SBY. Pak Beye. Gaul sekali rasanya. Seperti artis saja. Agnez Mo, Jupe, Titi DJ, KD. Bukan kebetulan kalau Pak Beye juga pandai menulis lagu dan menyanyi.

Secara historis, penggunaan inisial nama pernah sangat populer ketika John F. Kennedy menjadi lazim dipanggil JFK. Daya magis serupa juga dimanfaatkan SBY atau Pak Beye. Ditambah dengan ketenangan dan kewibawaan yang ditampilkannya membuat (sebagian) rakyat semakin merasa nyaman.

Jokowi

Jokowi berkuasa di tengah berkuasanya netizen di negeri ini. Ia bahkan terpilih, salah satunya karena kekuatan para netizen yang pro terhadap dirinya di media sosial. Mau tidak mau, Pak Presiden pun harus bergaul dengan warga lewat dunia maya. Ia punya akun Twitter, Instagram dan Facebook. Ia bahkan tampil sebagai bintang tamu dalam channel Youtube sang anak, Kaesang.

Seperti kebanyakan netizen, ia punya nickname yang sebenarnya sudah lama digunakan, Jokowi, singkatan dari nama lengkapnya Joko Widodo. Meskipun postingannya belum secair Kang Emil (Ridwan Kamil), tapi upayanya menjadi akrab dengan masyarakat di era internet cepat layak diberi jempol. Namun perkara jempolnya teracung ke atas atau menukik ke bawah, ya tergantung posisi Anda, sebagai haters atau lovers.

 

  

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s