Best Movie In 2014: Die Mannschaft

download

Orang boleh bilang The Hobbit, Interstellar, Gone Girl, Boyhood dan lainnya sebagai film terbaik di tahun 2014. Namun bagi saya, movie of the year 2014 itu adalah “Die Mannschaft”. Film yang mengisahkan perjalanan Jerman menjadi juara dunia 2014 ini memiliki berbagai alasan untuk dapat disebut sebagai top quality movie. Here are some of the reasons (random orders):

1. You’ve got drama, comedy, ‘horror’ / suspense, sad moments etc in one movie. How cool is that…

Tidak mudah loh meramu berbagai genre dalam satu film. Untuk drama, sebagai contoh, digambarkan dalam cuplikan-cuplikan pertandingan yang menawarkan berbagai kisah dramatis. Ketegangan juga terasa dalam beberapa momen lain seperti ketika pertandingan kontra Algeria berakhir dimana pemain dan pelatih terlihat mengalami kelelahan secara mental dan fisik. Lalu juga, pada detik-detik menjelang final, seluruh tim, secara khusus Jogi Loew, tampak begitu serius, fokus, tegang dalam mempersiapkan taktik, memilih starting eleven dan detail-detail lainnya.

Untuk urusan comedy, tak jauh-jauh dari ‘aktor kocak’ asal FC Bayern, Thomas Müller. Simak saja penampilannya dengan kostum perempuan (dirndl) sambil melayani beberapa anggota official timnas di meja makan. It’s hilarious. Juga ketika ia pura-pura terjatuh dalam sebuah latihan set-piece (free kick) yang merupakan sebuah strategi untuk mengalihkan fokus lawan. Typical Thomas. Namun, sebagai ‘aktor’ serba bisa, Thomas, di dalam adegan-adegan lain juga dengan lihai menampilkan kesan serius dan tegang, khususnya ketika berada di dalam lapangan.

Selain itu, terdapat juga beberapa adegan ‘horror’ / menegangkan seperti misalnya ketika Kramer mengalami benturan kepala yang menyebabkan dirinya gegar otak ringan dan harus keluar lapangan. Atau setiap kali Manuel Neuer melakukan aksi-aksi penyelamatan di luar kotak pinalti. Dijamin, walaupun semua adegan ini sifatnya hanya merekam hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu, akan tetap memberikan ketegangan bagi mereka yang menonton…

Ada juga berbagai aksi heroik yang ditampilkan dalam film ini. Tentu salah satu yang paling diingat adalah bagaimana Basti, dengan darah yang mengucur di wajah akibat berbenturan dengan pemain Argentina, memilih untuk tetap bertanding hingga peluit panjang dibunyikan. Lihat juga bagaimana Miroslav Klose berjuang untuk meraih rekor sebagai pemain yang mencetak gol terbanyak selama gelaran piala dunia dengan gol ke enam belasnya, melewati rekor Ronaldo. Dan sudah tentu, jangan lupakan momen klimaks dimana Götze berhasil menciptakan gol semata wayang di babak perpanjangan waktu yang sudah cukup untuk menghantarkan Jerman menjadi weltmeister.

Untuk sad moments sendiri sebenarnya tidak berlaku bagi penonton yang merupakan fans Jerman, tapi untuk fans dari negara-negara yang ditaklukkan Jerman. Secara khusus, Brazil🙂Cukup banyak potongan gambar yang menunjukkan keharuan pemain dan fans Brazil pasca ditekuk lutut Jerman dengan skor mencengangkan, 7-1. Ah sudahlah, jangan terlalu banyak ngomongin kekalahan Brazil, entar dijitak Dante. :p

Semua hal tersebut di atas (dan masih banyak lagi) ada di dalam film berdurasi 1 jam 29 menit ini. Epic!!

2. Best music.

Anda dijamin akan senyum-senyum sendiri sambil sing along (buat yang tahu lagunya) ketika mendengar Cristoph Kramer menyanyikan lagu “When You Say Nothing At All”. Momen ini terjadi pada malam hari, di atas feri, ketika tim hendak kembali ke Campo Bahia usai mengalahkan Ronaldo dkk di laga pembuka fase grup.

Penonton juga akan terhibur dengan ‘paduan suara’ para pemain yang melantunkan sejumlah lagu dan chants pasca kemenangan kontra Argentina. Meskipun tidak (selalu) merdu, tapi mereka menyanyi dengan sepenuh hati🙂

Pemilihan background music di sejumlah adegan juga terdengar sangat pas dengan scene yang disajikan. Hal ini membuat penonton bisa lebih menikmati scene-scene tertentu.

3. Aktornya keren-keren, baik dari sisi totalitas bermain maupun penampilan fisik. Ga kalah deh sama bintang-bintang film Hollywood. Ga percaya? Tanya aja fans Jerman yang perempuan.🙂

Jangan lupakan juga permainan dengan kesungguhan hati dari para ‘supporting actors’🙂 Misalnya saja, para warga sekitar Campo Bahia yang benar-benar bergembira menerima kehadiran para bintang-bintang sepak bola Jerman di desa mereka. Atau bagaimana hebatnya peran para “pemain di belakang layar” di tim nasional Jerman seperti mereka yang menyiapkan dan membersihkan sepatu serta kostum para pemain. Atau mereka yang memberikan massage, medical treatment, materi latihan dan sebagainya. Mereka bukan bintang, tapi tanpa mereka, bintang-bintang tim nasional Jerman akan kesulitan untuk memancarkan sinar keterampilan permainan mereka di lapangan.

4. Dalam hal pengambilan gambar, menurut saya film ini juga patut diacungi jempol. Video demi video yang dipilih dan disatukan benar-benar mengalir dengan indah. Sehingga, walaupun tidak mengerti bahasa Jerman (bahasa pengantar yang digunakan di sepanjang film), penonton diyakini akan tetap bisa menikmati dan mengerti apa yang hendak disampaikan si film maker.

5. Happy ending.

Pada akhirnya, penonton tentu akan lebih happy jika film berakhir dengan happy ending. Kalau tidak percaya, bandingkan saja film ini dengan film serupa, Deutschland. Ein Sommermärchen, yang mengisahkan perjalanan Jerman di Piala Dunia 2006. Kala itu, perjalanan tim nasional Jerman hanya berujung pada raihan peringkat tiga di akhir turnamen. Sad ending😦

Penonton juga tentu senang jika jagoan sesungguhnya menang, bukan?🙂 Ketimbang “jagoan-jagoan” yang digembar-gemborkan media seperti Ronaldo, Messi atau Neymar. Jerman adalah tim sepak bola yang sesungguhnya. Dan layak untuk akhirnya kembali membuktikan diri sebagai yang terbaik di dunia untuk ke-empat kalinya.

Enough said. Silahkan lihat sendiri trailer film keren ini.

Menilik Hubungan Panggilan Akrab Presiden dan Keakrabannya dengan Rakyat

Tak terasa 17 Agustus sudah datang lagi. Kali ini ia menjadi penanda 71 tahun perjalanan kita sebagai bangsa yang merdeka. Dalam segala jatuh bangun yang dihadapi, layaklah kita tetap bersyukur sebagai bangsa. Kita bersyukur karena di tengah serangan kaum intoleran yang membabi-buta, NKRI masih bisa dipertahankan. Negara juga masih bisa dibilang penuh kedamaian. Perang hanya terjadi di Twitter. Dan meskipun korupsi masih terjadi dimana-mana, pembangunan terus bergulir dan membawa dampak bagi (semoga) sebanyak-banyaknya rakyat.

Semua ini, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, tentu dipengaruhi oleh kepemimpinan para presiden. Dan yang menarik, masing-masing presiden memiliki keunikan serta pendekatan tersendiri dalam memandang kepemimpinan dan cara mereka membangun relasi dengan rakyat. Setidaknya hal ini bisa terlihat dari cara mereka biasa disapa oleh masyarakat. Berikut beberapa contohnya.

Bung Karno

Soekarno menjadi presiden pada zaman revolusi kemerdekaan. Menurut Achmad Notosoetardjo, Soekarno lah yang mula-mula mempopulerkan sebutan ‘bung’ sebagai panggilan untuk mereka yang revolusioner dan bercita-cita melenyapkan imperialisme-kolonialisme, kapitalisme serta bercita-citakan Indonesia merdeka. Wah, kalau ada orang ngomong semacam ini di era sekarang, besar kemungkinan sudah dicap sebagai kominis dan digeruduk massa.

Maaf, maaf, pembaca. Saya sedikit kehilangan fokus.

Parakitri Simbolon dalam Menjadi Indonesia menyebutkan bahwa Soekarno mulai memperkenalkan panggilan ‘bung’ ketika terbentuknya Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada Desember 1927.

Memang kalau dipikir-pikir sapaan ‘bung’ begitu pas dengan kondisi saat itu. Ia merupakan simbol perlawanan terhadap penjajah. Coba bayangkan mengganti lirik “Mari Bung rebut kembali” dengan “Mari Cyin rebut kembali”. Tentu massa tak akan terbakar semangatnya untuk berjuang mengusir penjajah.

Dan dengan memilih dipanggil sebagai Bung Karno, presiden pertama Indonesia ini menjadi personifikasi revolusi itu sendiri. Sapaan ‘bung’ membuatnya bukan sekadar terasa dekat dengan rakyat, lebih dari itu ia adalah bagian dari rakyat.

Sedikit berkhayal, dengan sebutan bung, rasanya juga cocok dalam strategi politik luar negeri kala itu. Bung itu revolusioner tapi juga elegan. Ia diterima di Eropa Timur tapi juga menerobos masuk ke kalangan sosialita Hollywood. Terbayang gagahnya Soekarno ketika berjabatan tangan dengan Marilyn Monroe dan berujar, “Soekarno. Bung Karno.” Sama kerennya dengan detektif Inggris, “Bond. James Bond.”

Bapak Soeharto

Perlu diingat bahwa Soeharto, setidaknya menurut dirinya sendiri, mengambil alih kepemimpinan nasional pada masa-masa chaos. Oleh karenanya, sebagai pemimpin negara, ia memosisikan diri sebagai penjaga ketertiban dan konduktor stabilisasi di berbagai bidang. Ditambah lagi dengan latar belakangnya dari militer, layaklah jika ia dipanggil dengan istilah Bapak.

Dalam konteks kepemimpinan Pak Harto, sebutan Bapak terasa membuat jarak dengan masyarakat namun pada saat yang bersamaan ia memainkan peran sebagai pengayom masyarakat. Ia harus dihormati tetapi ia juga punya perencanaan yang jelas untuk pembangunan masyarakat. Ia mengelola sebuah kontradiksi dengan baik. Sayang ketika itu belum ada aturan presiden hanya boleh memimpin dua periode. Alhasil, ia terjebak memanfaatkan kekuasaannya secara berlebihan.

Toh begitu, sejumlah masyarakat yang sempat merasakan nikmatnya stabilisasi dan pembangunan di era Bapak Pembangunan tersebut kini sering rindu ingin kembali ke era Orde Baru. “Piye Le, enak jamanku tho?”

Gus Dur

Seandainya kalian lagi ada waktu senggang, cobalah tanya kepada orang-orang di sekitarmu, “Siapa Presiden RI ke-4?” Kemungkinan, mayoritas akan menjawab Gus Dur, bukan nama asli sang presiden, Abdurrahman Wahid. Entahlah, tapi menurut saya panggilan Gus Dur merepresentasikan kedekatan yang lebih cair antara presiden dan rakyat. Tembok-tembok pemisah yang dibangun kokoh selama 32 tahun oleh Presiden Soeharto dihancurkan begitu cepat oleh Gus Dur.

Kejenakaannya juga mewakili selera humor rakyat Indonesia yang sekarang mulai hilang dan berganti dengan selera marah-marah. Tapi sayangnya, sejumlah petinggi baik di legislatif maupun eksekutif tak suka dengan kebijakan-kebijakan Gus Dur. Mereka memakzulkan presiden yang mereka pilih sendiri beberapa tahun sebelumnya.

Mbak Mega – Bu Mega

Panggilan Mbak dan kemudian lebih sering Ibu menggambarkan sebuah relasi kedekatan yang kuat antara Megawati dan rakyat khususnya para pendukungnya. Saya masih ingat betul betapa ramainya massa pendukung Mbak Mega di sekitar Bundaran HI saat proses pemungutan suara untuk memilih presiden di Gedung MPR RI. Magnet Mbak Mega menguat setelah terjadi upaya penggeseran dirinya dari tampuk pimpinan PDI pada tahun 1996. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Mungkin juga orang terhipnotis setiap kali ia memulai pidato dengan memekikkan, “Merdeka! Merdeka!”

Pak Beye – SBY

Kesan pertama saya tentang Pak Susilo Bambang Yudhoyono adalah pandai mengambil hati (sebagian) rakyat Indonesia. Popularitasnya meroket cepat dalam waktu singkat. Dan dengan modal itu, ia berhasil menjadi presiden Indonesia pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Penggunaan panggilan SBY juga hal lain yang menarik dari sang presiden. Bagi kaum muda, ini mungkin semacam simbol kekinian. SBY. Pak Beye. Gaul sekali rasanya. Seperti artis saja. Agnez Mo, Jupe, Titi DJ, KD. Bukan kebetulan kalau Pak Beye juga pandai menulis lagu dan menyanyi.

Secara historis, penggunaan inisial nama pernah sangat populer ketika John F. Kennedy menjadi lazim dipanggil JFK. Daya magis serupa juga dimanfaatkan SBY atau Pak Beye. Ditambah dengan ketenangan dan kewibawaan yang ditampilkannya membuat (sebagian) rakyat semakin merasa nyaman.

Jokowi

Jokowi berkuasa di tengah berkuasanya netizen di negeri ini. Ia bahkan terpilih, salah satunya karena kekuatan para netizen yang pro terhadap dirinya di media sosial. Mau tidak mau, Pak Presiden pun harus bergaul dengan warga lewat dunia maya. Ia punya akun Twitter, Instagram dan Facebook. Ia bahkan tampil sebagai bintang tamu dalam channel Youtube sang anak, Kaesang.

Seperti kebanyakan netizen, ia punya nickname yang sebenarnya sudah lama digunakan, Jokowi, singkatan dari nama lengkapnya Joko Widodo. Meskipun postingannya belum secair Kang Emil (Ridwan Kamil), tapi upayanya menjadi akrab dengan masyarakat di era internet cepat layak diberi jempol. Namun perkara jempolnya teracung ke atas atau menukik ke bawah, ya tergantung posisi Anda, sebagai haters atau lovers.

 

  

 

 

Bocah-bocah Suriah, Perang, Mati Rasa dan Secercah Harapan

Perang itu bisa jadi salah satu bukti bahwa manusia masih primitif. Hawa nafsu untuk menguasai bangsa/orang lain nyatanya masih mendominasi keputusan manusia. Yang beda hanya alat perangnya saja. Kalau dulu masih pakai pedang, bambu runcing, panah atau pistol jadul. Sekarang sudah pakai nuklir, tank, pesawat tempur, senjata laser, dan alat-alat pembunuh canggih lainnya.

Namun nyatanya, semodern apa pun senjatanya, tujuannya tetap sama, untuk membunuh. Malah dengan segala kecanggihannya, alat-alat perang mutakhir justru sebenarnya lebih dungu sekaligus menjadi bukti para penggunanya pengecut. Ia tidak bisa lagi membedakan mana yang mau dijadikan target. Main hantam sekenanya saja. Para penguasa di balik kekacauan perang mungkin tersenyum karena “musuh” banyak yang mati.

Tapi perkenankan saya bertanya, siapa itu musuh, tuan puan yang rakus? Bocah-bocah di Aleppo itu juga musuh? Kalau bukan, kenapa kalian hujani dengan bom?

sumber: twitter @rafsanchez

sumber: twitter @rafsanchez

 

Siapa itu musuh, tuan puan yang bodoh? Anak lima tahun bernama Omran Daqneesh?

sumber: CNN

sumber: CNN

 

Siapa itu musuh, hei orang-orang dewasa yang mengira diri mereka pemberani? Alan Kurdi, bocah tiga tahun yang tewas tenggelam di tepi pantai Turki karena harus ikut ayahnya melarikan diri dari tanah airnya?

sumber: HA Hellyer

sumber: HA Hellyer

 

Salah satu kengerian zaman sekarang adalah makin sulit meyakini bahwa pengharapan akan sesuatu yang lebih baik itu masih ada. Perang di mana-mana. Korupsi di sana-sini. Narkoba di mana-mana. Di mana-mana kejahatan (sepertinya) merajalela. Ketika foto Alan tersebar luas di media pada September 2015 silam, muncul harapan agar para jagoan pengecut menghentikan perang. Tapi mereka sudah terlanjur mati rasa. Hawa nafsu mereka sudah lebih besar, jauh lebih besar daripada rasa kemanusiaan yang dititipkan di hati mereka.

Perang toh terus berlanjut dengan dalih banyak agenda penting yang harus diselesaikan. Atas nama negara, atas nama agama, demi kekayaan atau apa pun juga. Ini untuk kebaikan umat manusia juga pada akhirnya. Begitu mungkin manusia primitif menambahkan argumentasi mereka.

Tapi manusia-manusia primitif itu perlu tahu, pengharapan tak pernah padam. Dan anak-anak adalah simbol pengharapan. Omran dan teman-temannya di Suriah beserta anak-anak lainnya di berbagai belahan dunia adalah harapan. Dan saya kok yakin, masih banyak orang-orang dewasa yang dengan senang hati menemani perjalanan mereka bertumbuh menjadi manusia-manusia yang baik. Termasuk Anda yang berkenan membaca tulisan ini. Betul kan?

 

Cepat sembuh, Omran!

 

 

Kita Butuh Olimpiade Setiap Minggu

Saya menuliskan artikel ini tanggal 18 Agustus 2016. Kurang lebih 24 jam setelah kemenangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir a.k.a Owi dan Butet di ajang final bulu tangkis ganda campuran Olimpiade Rio 2016. Gemuruh sukacita atas kemenangan tersebut masih sangat terasa. Ya, siapa yang tak bangga dengan raihan medali emas di hari kemerdekaan RI yang ke-71.

Bagi sebagian orang, kemenangan Owi dan Butet ibarat simbol “perlawanan” terhadap derasnya isu pertentangan SARA dan jender yang dipelihara oleh sekelompok orang di negeri ini. Belum terlalu lama terjadi keributan terkait isu SARA di beberapa tempat seperti di Tanjung Balai dan Yogyakarta. Sesama orang Indonesia berkelahi gara-gara urusan SARA.

Kontras dengan yang ditunjukkan Owi dan Butet. Mereka berhasil menjadi pemenang berkat padu-padan suku, agama dan ras yang dibungkus dalam kesatuan tanah air, Indonesia.

Indah sekali. Saking indahnya, ada perasaan ngeri kalau hal ini bakal cepat berlalu. Belum lagi kesadaran akan pentingnya kebhinekaan masuk ke rumah-rumah warga, bisa-bisa trending topic sudah kembali ke urusan saling ejek antar ras dan kelompok. Dan sesekali dihiasi gosip tentang roman picisan para selebritis.

Perkiraan saya paling lama satu minggu saja suasana guyub ini terpelihara. Bisa jadi lebih cepat kalau ada berita pemantik keramaian SARA muncul tiba-tiba. Misalnya kalau PDI-P mengumumkan calon gubernur DKI jagoannya. Entah itu Ahok, Risma atau siapa pun, niscaya kabar baik tentang pentingnya persatuan antar berbagai suku, agama dan ras yang diusung Owi dan Butet akan segera digoncang.

Apalagi, pada dasarnya kita ini bangsa pelupa dan mudah terpecah konsentrasinya. Sebentar ramai bahas persoalan HAM, besoknya sudah lupa. Semangat bicara tentang kasus korupsi sambil ngopi-ngopi, lusa sudah tidak ingat. Sudah dasarnya pelupa, ada pula sejumlah pemain yang entah disadari atau tidak kehadirannya, sibuk memainkan isu SARA di tengah publik. Sayang seribu sayang masyarakat sering termakan isu-isu si provokator. Gampang sekali terpancing untuk saling serang dan berantem di medsos. Hebatnya, kalau udah saling serang soal SARA, daya tahan (sebagian) orang Indonesia itu luar biasa tangguh.

Dan kalau sudah melihat linimasa penuh dengan perang SARA, disitu kadang saya berharap Olimpiade digelar setiap minggu dan Indonesia selalu mendapatkan medali emas. Kadang yang juara si kulit cokelat, kadang si mata sipit, kadang si rambut kribo. Terserah, yang penting di belakang kaosnya tertulis dengan gagah berani: I N D O N E S I A.

 

Liburan Pencitraan

Akhir pekan telah tiba. Saat yang paling nikmat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Saya pun mengajak istri dan anak-anak ke hotel The Trans Luxury Bandung.

Sambil menunggu waktu check-in, kami duduk-duduk di sofa yang sangat empuk. Anak-anak berlarian di seputar lobi dan melihat air mancur di halaman hotel.

Cukup banyak pengunjung hari ini, namun suasana tetap terasa nyaman. Sejuk sekali di lobby.

Waktu check-in pun tiba. Alih-alih bergegas ke meja resepsionis, kami melangkahkan kaki keluar. Loh ga nginap? Ya jelas dong… Jelas ga!! Larang, rek. Lagian tujuan awal memang cuma numpang ngadem (dan foto) kok… Konsistensi itu penting 🙂

Selamat berakhir pekan. Jangan lupa piknik!

liburan

Dari Twitter ke Petisi, Gerakan Sosial sambil Ngopi-ngopi Cantik?

Rosa Parks bukan orang kulit hitam pertama yang menentang perlakuan rasis dari kaum kulit putih di Amerika Serikat. Sebelum dia, sejumlah nama seperti Bayard Rustin, Irene Morgan, Sarah Louise Keys, dan beberapa orang lainnya juga pernah melakukan perlawanan terhadap orang kulit putih.

Namun, tindakan Rosa Parks yang menolak ketika diminta disuruh pindah duduk ke belakang bus yang akhirnya mampu memicu gerakan sosial lebih besar dalam melawan diskriminasi rasial orang-orang kulit putih. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Dalam bukunya ‘The Power of Habit’, Charles Duhigg memaparkan beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya pergerakan sosial yang besar. Pertama, sebuah gerakan biasanya dimulai dari kekuatan pengaruh pertemanan di antara beberapa orang atau kelompok.

Lalu gerakan akan semakin berkembang dengan adanya dukungan dari hubungan dengan kelompok-kelompok lain yang lebih luas. Dan, pada akhirnya, gerakan sosial akan menjadi semakin besar dan bertahan, ketika muncul rasa memiliki dari sebuah komunitas terhadap gerakan yang mereka jalankan.

Dan, menurut Duhigg, apa yang terjadi pada gerakan sosial yang dipicu oleh Rosa Parks memenuhi tiga unsur tersebut. Rosa Parks merupakan seorang perempuan yang aktif pada banyak kegiatan baik di tengah komunitas, organisasi, maupun gereja. Hal ini membuat penahanannya oleh polisi pada 1 Desember 1955 akibat membangkang di dalam bus memicu protes teman-temannya dari berbagai organisasi. Mereka membuat aksi protes dalam bentuk konkret, yaitu memboikot bus di kota mereka, Montgomery.

Penyebaran informasi aksi tersebut meluas begitu cepat dan membuat orang-orang yang tak kenal Rosa Parks sekalipun akhirnya turut ambil bagian, karena pengaruh dari teman atau kerabat mereka. Hingga akhirnya, gerakan ini dipimpin oleh Martin Luther King Jr dan terus berkembang dari waktu ke waktu dalam memerangi diskriminasi rasial yang begitu kental di Amerika.

Lalu, bagaimana dengan gerakan sosial di era teknologi informasi seperti sekarang?

Secara umum, sepertinya tidak jauh berbeda dengan konsep yang dipaparkan Charles Duhigg dalam bukunya. Tentu, Rosa Parks kekinian adalah para selebtwit yang punya banyak teman dan pengikut. Sekali ngetwit, walau mungkin isinya terkesan tidak penting sama sekali bahkan terkadang garing, ratusan bahkan ribuan orang bisa me-retweet. Hebatnya lagi, selebtwit itu tak selamanya manusia. Bahkan sebuah sponge bernama Sponge Bob pengikutnya bisa mencapai 1,7 juta akun. Lah, kamu berapa pengikutnya, mblo?

Nah, bayangkan kalau selebtwit sudah bersabda, bakal banyak yang memberikan dukungan. Misalnya, ketika para pesohor melakoni #IceBucketChallenge sebagai bagian dari pengumpulan dana dan penyebaran informasi tentang penyakit ALS, netizen pun turut mendukung sepenuh hati.

Atau, kalau kalian masih ingat, pada 2012 pernah ada ajakan dari para selebritis untuk #StopKony. Nama-nama beken seperti Oprah Winfrey, Rihanna, Alyssa Milano, sampai idola remaja kekinian, dik Justin Bieber, juga ikut menyuarakan dengan lantang #StopKony.

Joseph Kony adalah pemimpin Lord’s Resistance Army (LRA), yang melakukan pembunuhan massal, pencurian ribuan anak, dan berbagai kekejian lain di Nigeria. Namun, hingga kini, tidak ada kabar yang pasti apakah gerakan tersebut sudah berhasil menghentikan kekejaman Kony atau belum.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa gerakan sosial yang meledak, karena dukungan media sosial. Misalnya, satu juta facebooker dukung Bibit-Chandra, koin untuk Prita, atau yang rada kekinian seperti Bali tolak reklamasi. Selain melalui media sosial, satu metode gerakan lainnya pada masa kini adalah melalui petisi.

Hampir tiap hari selalu muncul ajakan untuk menandatangani sebuah petisi. Tapi pertanyaannya, benarkah gerakan sosial melalui media sosial tak memiliki perbedaan yang nyata dengan gerakan yang biasa dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya?

Menurut saya, salah satu perbedaan utamanya adalah soal rasa kepemilikan terhadap permasalahan yang sedang disuarakan. Rosa Parks dan masyarakat kulit hitam di Amerika tahu persis rasanya didiskriminasi oleh ras kulit putih. Sedangkan masyarakat yang mendukung perbaikan kehidupan di Papua misalnya, belum tentu benar-benar mengerti perasaan atau kegundahan yang dihadapi masyarakat di sana.

Betul bahwa mereka memiliki awareness terhadap sesuatu yang tidak berjalan baik, misalnya dalam hal pelanggaran HAM atau minimnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan dasar. Dan, betul juga bahwa netizen bersimpati terhadap sesamanya di Papua, tapi kemungkinan besar tak lebih dari itu.

Lagipula apa sulitnya me-retweet atau menandatangani petisi sambil ngopi-ngopi cantik di sebuah kedai kopi yang nyaman, bukan? Namanya juga lagi ngopi-ngopi cantik, begitu ada topik lain yang lebih seru, (pura-pura) lupa sama sebelumnya. Itu kenapa gerakan sosial melalui media sosial punya tendensi untuk tidak bertahan lama.

Misalnya, belum lama ini netizen menaruh perhatian terhadap upaya Leonardo DiCaprio untuk menyelamatkan ekosistem di Taman Nasional Gunung Leuser dari gempuran ekspansi perkebunan kelapa sawit. Boleh percaya boleh tidak, paling sebentar lagi berlalu. Tentu saja saya tidak akan membuat nazar aneh-aneh seperti gantung saya di Monas atau lompat dari Monas dan sejenisnya untuk mendramatisir pernyataan saya tersebut.

Satu tambahan lain mengenai beda gerakan sosial melalui dan tanpa media sosial saya kutip dari Malcolm Gladwell. Ia mengatakan bahwa gerakan melalui media sosial tidak memiliki struktur dan karakter dari organisasi pergerakan. Media sosial menang telak dalam hal membangun networks, namun gerakan sosial tak bisa dilakukan hanya dengannetworks semata-mata.

Ia harus tumbuh dalam sebuah organisasi, karena tanpanya sulit untuk membicarakan strategi gerakan serta membuat keputusan-keputusan di lapangan. Intinya, media sosial hanya bisa menolong sampai pada tahap tertentu saja, yaitu tahap pembangunan kesadaran dan penyebaran informasi. Lebih dari itu, tetap perlu pelaku-pelaku di lapangan.

Tapi tahu apa Gladwell tentang kehebatan gerakan media sosial di Indonesia? Bukan begitu, kawan-kawan? Abaikan saja dan mari kembali fokus ke jempol kita untuk me-like, me-retweet, dan menandatangani petisi. Tentunya sambil ngopi-ngopi cantik…

 

pertama kali tayang di voxpop.id tanggal 8 April 2016.

Catatan Anak Bola untuk Ultras Sinetron Anak Jalanan dan Piala Eropa

Piala Eropa 2016 segera memasuki babak gugur-guguran. Enam belas tim sudah memastikan tiket ke perdelapan final, termasuk Inggris, yang penampilannya kali ini lebih tegang daripada nonton film horor sekelas Conjuring 2. Tentunya, dalam beberapa hari ke depan, setiap pertandingan bakal lebih memacu detak jantung ultras sepak bola, lebih cepat dibanding ultras sinetron Anak Jalanan memacu motor-motor sport mereka yang masih nyicil itu.

Beberapa pertandingan bahkan langsung menyajikan laga epik “Clash of Titans”, semisal Spanyol kontra Italia. Tapi, sebelum mulut kita gagal mingkem menyaksikan betapa dramatisnya Piala Eropa atau Euro 2016 daripada sinetron Anak Jalanan, mari selow sejenak menyimak catatan ringan ini.

Selama babak penyisihan turnamen sepak bola akbar di ‘Benua Biru’ tersebut, sesungguhnya tidak ada pelajaran yang baru-baru amat bagi masyarakat Indonesia. Meski begitu, saya tetap malas menonton sinetron wabil khusus Anak Jalanan, yang katanya tetap menjadi program dengan rating tertinggi, jauh di atas Piala Eropa.

Saya tak punya pledoi atau teori untuk membela para pencinta tayangan sepak bola. Tidak seperti Arif Utama yang begitu apik membela ultras sinetron Anak Jalanan dalam artikelnya di Voxpop berjudul “Dear Anak Bola, Jangan Main-main dengan Ultras Sinetron Anak Jalanan.”

Alasan personal saya cuma satu, karena sinetron tidak pernah mampu membuat bulu saya berdiri atau meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Tidak ada emosi yang bisa memikat hati. Beda dengan sepak bola, emosi penonton sedemikian cetar. Menembus batas negara, bangsa, dan tentunya lintas agama.

Balik lagi soal Piala Eropa, yang selama babak penyisihan tidak memberikan pelajaran yang baru bagi penikmat sepak bola di Tanah Air. Kenapa begitu? Mari kita simak:

Perjuangan sampai titik darah penghabisan

Seorang legenda sepak bola Jerman, Sepp Herberger pernah berkata, “Der ball ist rund(bola itu bundar).” Segala sesuatu bisa terjadi selama 90 menit. Sebelum peluit panjang dibunyikan, hasil pertandingan masih bisa berubah. Sebuah tim bisa saja meraih kemenangan pada menit-menit akhir, karena lawannya kehilangan konsentrasi di penghujung laga. Maka dari itu, harus bersiap menerima kekalahan atau setidaknya hasil imbang.

Hal seperti itu lumayan sering terjadi pada Piala Eropa tahun ini. Sampai pekan lalu, dari 47 gol yang tercipta, sebanyak 13 di antaranya terjadi setelah menit ke-85. Dramatis! Mungkin itu kata yang tepat. Kegigihan menggempur pertahanan lawan dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Jelas ini bukan barang baru di sepak bola maupun dunia politik di Indonesia. Pilpresnya sudah lewat bertahun-tahun, nyinyirnya masih terbawa sampai sekarang. Pilkadanya masih tahun depan, jual beli serangan sudah terjadi jauh sebelumnya. Daya tahan untuk saling menyerang di dunia politik negeri ini memang layak diacungi jari jempol.

Beri kesempatan pada generasi muda

Hal lain yang menarik dari Piala Eropa atau Euro 2016 adalah lumayan banyaknya pemain muda yang diberi kesempatan membela tim nasional masing-masing. Inggris dan Jerman menjadi dua tim dengan rata-rata usia pemain termuda. Dan, para pemain muda ini juga tidak sekadar duduk manis di bangku cadangan. Banyak dari mereka yang sudah mendapat kesempatan bermain dan mengundang decak kagum, seperti Kingsley Coman (Prancis), Emre Mor (Turki), Renato Sanches (Portugal), dan Joshua Kimmich (Jerman).

Di Indonesia sendiri kebiasaan menjadikan generasi muda sebagai ujung tombak suatu gerakan bukan hal baru. Duta Pancasila dan Duta Anti-Narkoba di Medan adalah generasi muda, meskipun proses pemilihannya kontroversial. Namun setidaknya itu bukti bahwa negeri ini masih memberi kesempatan bagi generasi muda untuk menularkan virus positif kepada anak-anak muda lainnya. Semoga ke depan bisa lebih banyak anak muda yang menjadi duta karena prestasi, bukan sensasi.

Merayakan perbedaan

Perbedaan itu sebuah keniscayaan. Daripada meributkan itu, mengapa tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif? Begitu mungkin pikiran para petinggi sepak bola di Jerman dan Prancis. Dua tim kuat ini meramu pemain-pemain multikultur di dalam skuatnya.

Tim Jerman menggemakan slogan “Jeder fuer Jeden” atau masing-masing untuk semua. Tidak peduli dari ras mana nenek moyang para pemain. Mereka semua adalah pemain tim nasional Jerman dan siap saling menopang untuk kejayaan negara mereka.

Sepintas mirip dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Indah bukan? Walaupun praktiknya susah. Masih ada kelompok yang merasa paling berhak mengkavling tanah surga, sampai bisa-bisanya mengkafirkan pemeluk agama yang berbeda.

Berkelahi itu tidak baik (twitwar sedikit lebih baik)

Salah satu aib sepanjang pagelaran Piala Eropa 2016 adalah perkelahian antar suporter, khususnya Rusia dan Inggris. Sebelum pertandingan dimulai, fans kedua negara sudah saling bentrok. Dan, yang lebih gila, baku pukul juga terjadi di dalam stadion, sesaat setelah pertandingan usai.

Sejumlah orang menderita luka cukup serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit. UEFA sampai mengancam akan mendiskualifikasi kedua negara dari turnamen, jika para pendukung mereka bikin onar lagi.

Perkelahian memang tidak baik dan tidak perlu. Bangsa Indonesia paham betul soal ini dan enggan untuk berkelahi secara fisik, tapi lebih memilih berkelahi di media sosial aliastwitwar. Ya mungkin ini cara gelut yang “lebih santun dan tidak melukai”. Yang terjadi justru makin tenar dan lumayan nambah followers.

Masih menyangkut soal perkelahian, Presiden Rusia Vladimir Putin malah menjadikan itu sebagai guyonan. Blio merasa heran, bagaimana 150 orang pendukung timnas Rusia dapat “mengalahkan” ribuan fans Inggris? Wah, perilaku seperti itu beda sekali dengan para politisi di negeri ini. Kalau di terjadi perkelahian antar suporter di Indonesia, alih-alih menertawakan, mereka langsung sigap cari panggung dan mendadak ahli. “Ini pasti karena miras!”

Ya begitulah sedikit catatan pinggir dari pernak-pernik Piala Eropa khususnya selama fase penyisihan grup. Sayangnya, tidak ada pelajaran yang baru-baru amat buat masyarakat kita. Hanya (lagi-lagi) kode keras buat persepakbolaan di Tanah Air bahwa sudah sepatutnya kita tak lagi memakai formalin agar kemuraman prestasi nggak awet begini, keleus…

 

pertama kali tayang di voxpop.id tanggal 24 Juni 2016.